Rabu, 19 Juni 2013
Berbeda
"Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta." Soe Hok Gie
Memutuskan untuk tidak bersama itu kadang-kadang bukan karena menyerah,
tapi karena memang ada hal yang tidak ingin, tidak baik, tidak benar, dan tidak bisa dipaksakan.
Mungkin, tidak sesederhana yang dibayangkan saat tahu kita jatuh cinta pada seseorang yang tidak seharusnya kita cinta.
Beberapa memilih menghindar, sebagian memilih hanya mencoba, yang parahnya lagi, sebagian hanya mempermainkan.
Mungkin sedari awal aku lah yang salah, terlalu serakah dalam kenikmatan yang membabi buta.
Aku datang dengan tidak tulus.
Memberi tapi seolah tidak ingin diberi itu bohong, karena nyatanya aku tidak semulia itu, aku ingin memperoleh kelayakan atau kepantasan yang membayar aku karena sudah memberi.
Terlihat kasar, memang.
Tapi setelah direnungkan, memang itulah kodrat sebagai ciptaan Tuhan. Sebagai maha tidak sempurna.
Sedari enggan bertemu sampai selalu ingin bertemu.
Ribuan hari rayuan, jutaan sapa, dan tak terhingga rasa.
Hanya lembaran-lembaran hati yang dapat menyimpannya dengan jelas.
Sejenak ingin mencinta, tapi sulit.
Sejenak ingin membenci, namun kembali sulit.
Entah apa yang aku sebut "cinta" selama ini adalah benar cinta atau hanya ambisi pembenaran bertopeng cinta.
Aku bersatu, berusaha bersatu.
Untuk tidak membohongi diri bahkan menjujuri diri.
Aku terbatas. Kita terbatas.
Rasa ini tak perlu dibagi, karena tak terdefinisi sama sekali.
Aku melalui perjalanan panjang.
Sejak...tidak tahu kapan, dan sampai...tidak tahu kapan.
Sejak belum mengerti, sampai mencoba mengerti
atau sudah terlalu mengerti
atau ternyata masih belum mengerti sampai detik ini.
Sejak belum dekat,
sampai menjadi dekat,
atau sampai sudah terlalu dekat,
atau ternyata tidak mendekat hingga kini.
Sejak belum jauh,
sampai mencoba menjauh,
atau sampai sudah terlalu jauh,
atau ternyata memang belum jauh hingga detik ini.
Yang aku tahu ada jutaan hembusan nafas,
tak terhingga detakan jantung, dengan kerumunan rasa yang sangat sulit untuk dipaparkan.
Tak perlu disuruh menangis, aku sudah lama menangis.
Tak perlu disuruh bahagia, aku sudah lama bahagia.
Lalu apa masalahnya?
Banyak.
Memutuskan untuk tidak bersama itu kadang-kadang bukan karena sudah tidak peduli, justru karena teramat peduli, peduli untuk menjadi tulus, tulus untuk menjadi peduli.
Memutuskan untuk tidak bersama itu kadang-kadang bukan karena ingin menyakiti, namun karena justru ingin mengantarkan bahagia.
Bahagia untuk tidak terikat, bahagia yang tidak hanya untuk sementara.
Memutuskan untuk tidak bersama kadang-kadang bukan karena tidak mau, namun tidak sanggup.
Kita pikir kita siapa?
Datang, lalu pergi.
Pergi, lalu datang.
Datang tanpa gerangan.
Lalu pergi tanpa tujuan.
Sementara saya sama sekali tidak beranjak. Bak pengecut yang enggan buka tangan.
Ini tidak benar. Kita tidak benar.
Saya tidak menyesal, kini.
Begitupun nanti , saya kembali ingin menulis kalimat yang sama.
tanpa kata
Hujan itu berbicara.
Hujan menyampaikan salam rindu.
Hujan mencapkan panah jodoh dan rezeki.
Hujan itu indah.
Cobalah sesekali berbincang dengannya.
Ketika hujan datang, cobalah sesekali berdiri dibawahnya, tadahkan tangan ke arah langit, rasakan tetesan-tetesan air suci itu menjabat tanganmu dengan lembut.
Indah.
Ketika hujan datang, cobalah sesekali keluar ruangan dan berdiri dibawahnya, angkat wajahmu arahkan ke langit, rasakan tetesan air suci itu membelai wajahmu dengan halus.
Indah.
Ketika sedang berteduh, sesekali sempatkanlah melihat hujan turun dari bawah teduhnya sebuah pohon, daun seperti membagi suka cita nya lewat tetesan hujan yang mereka hantar.
Indah.
Ketika sedang berteduh, sesekali carilah lampu jalan, lalu berdiri dibawahnya, saat inilah yang saya suka, tetesan hujan yang turun perlahan dengan disinari cahaya lampu, seperti salju.
Indah.
H2C
Ternyata lagu indah itu dibuat tulus saat doi gak punya calon teman hidup.
Dia yang indah meretas gundah ternyata masih dinanti saat ditulis.
Saat itu tidak ada yang membawa sejuk, memanja rasa, dan selalu ada untuk tulus.
Optimis sekali lah kau, Bang.
Jadi mahkluk sepertiku pun masih bisa berharap lah ya dapat seseorang yang di dekatnya aku lebih tenang dan bersamanya jalan lebih terang.
Yang akan tetap bersamaku jadi teman hidupku dan berdua hadapi dunia.
Gak usahlah kau milikku milikmu, nanti malah tambah posesif kita.
Yang penting emang satu tujuan. Let it flow aja arungi derasnya waktu.
Bila di depan nanti, banyak cobaan untuk kisah cinta kita,
Jangan cepat menyerah karena kita punya Dia.
Selamanya akan begitu.
Jadi, bagaimana setelahnya? setelah tulisan ini terbit dengan iringan lagu T2 "Tak Jodoh" di radio yang saya putar.
Mak Jleeeeb!
Apakah Mungkin Hujan Berganti Pelangi
“Hujan, kau ingatkan aku, tentang satu rindu”
Rindu pada mereka yang juga merindukan hujan. Dengan harapan bahwa sesudah turunnya hujan sang pelangi akan datang.
Pelangi yang datang menenangkan setelah derasnya hujan.
Pelangi yang datang mewarnai kelamnya langit.
Pelangi yang datang mewarnai hidupku.
Hujan. “aku selalu bahagia saat hujan turun”
Mungkin benar, mungkin juga tidak.
Hujan, disini aku sedang menunggu, menunggu pelangi.
Menatapmu hujan, memandangmu hujan.
Disini, di sebuah teras gedung perpustakaan.
Kau hujan, mengapa hari ini turun terus menerus?
Tapi aku selalu menunggumu.
Aku tidak berpura-pura menatapmu. Aku memang menatapmu.
Hujan, hari sudah semakin sore. Aku khawatir kau tidak jua berhenti hingga matahari pulang.
Dan itu artinya pelangi itu tidak akan datang.
Karena hari sudah gelap. Oh, sudah gelap?
Berarti pelangi tidak akan mewarnai hidupku disaat hari sudah gelap ya?
Tersadar.
Ternyata pelangi hanya datang mewarnai jika hariku memang masih terang. Lalu siapa? Bintang? Ah bintang terlalu banyak hingga aku ragu mana bintang yang sesungguhnya memang untukku.
Sekarang malam. Matahari sudah tidak ada.
Aku masih menunggu.
Mungkin akan muncul pelangi di malam hari.
Ah, mustahil.
Mana mungkin pelangi muncul di malam hari, buang –buang waktu saja aku menunggunya.
Iya, menunggu pelangi adalah sia-sia, setelah hujan turun, pelangi belum tentu datang, apalagi hujan talk kunjung berhenti. Sampai malam.
Berarti pelangi tidak abadi ya?
Lalu apa yang abadi?
Matahari..? tidak juga, matahari hilang jika malam.
Bulan? Tidak juga, bulan hilang jika pagi.
Bintang? Tidak juga, bintang hanya ada di saat malam
Kadang-kadang sinarnya tidak cukup terang untuk malam yang kadang-kadang terlalu pekat untuk dilewati.
Berarti memang tidak ada yang abadi.
Malam lagi.
Aku masih duduk menunggu hujan menunggu ketidakpastian.
Aku bersandar di bahunya.
Bahu seorang teman.
Bercerita. Berbicara.
Di tengah redupnya hari, dan mendungnya pikiran, dan dinginnya hujan.
Kami bercerita. Tentang apa saja yang ingin kami ceritakan.
Kadang –kadang satu pendapat, kadang- kadang tidak. Wajar.
Belajar dari ceritanya, dan belajar dari ceritaku.
Memahami.
Hatiku dan hatinya, tidak ada yang tahu sedang merasakan apa.
Semakin malam semakin dingin.
Hujan tak kunjung berhenti dan pelangi sudahlah jangan diharap lagi.
Jumat, 14 Juni 2013
Sore menjadi gelap
Apa yang lebih indah daripada sore hari, dengan sebuah inspirasi yang terselip ketika senja bersolek dibalik horison, sambil menulis sebuah cerita dan ditemani kentalnya secangkir kopi hitam yang pekat?
Saat itu langit terlanjur gelap untuk kemudian bisa dipahami sebagai atap bumi. Mendung yang berarak, sore itu, membuat suasana senja yang beraroma kemuning tiba-tiba luluh dalam satu warna, abu-abu.
Semua hiruk pikuk dan denting keramaian yang sebelumnya masih ada sekejap berhenti begitu saja. Seperti seseorang dikejauhan menekan tombol stop dalam remot Mahakuasa. Mendung memang selalu membuat kesal siapapun yang sedang bersenang-senang di luar ruangan.
Sementara keramaian berangsur-angsur hilang, hujan pun seketika datang. Ditemani dengan gemuruh petir menyambar, riuh angin dan lampu-lampu yang mulai menyala. Namun sisanya masih sunyi. Hawa pun semakin dingin dan gelap pelan-pelan menyergap.
Awalnya saya hanya sedang ingin menghabiskan waktu senggang akibat hujan deras, yang bulir-bulirnya riuh berjatuhan di halaman rumah, yang wanginya mengirimkan sepasukan aroma tanah basah. Dan saya pun terdiam dengan jari jemari terus menulis dan menulis dan menulis.
Saya kira menulis itu soal menuangkan apa yang ada dalam pikiran dan membiarkanya melantur seperti anak-anak yang bermain perang. Lalu merapikannya pelan-pelan dan memberikan sebuah batasan yang jelas perihal apa saja yang hendak disampaikan dan apa yang tidak. Tapi rupanya menulis itu semacam membuka keran air dengan tangki sebesar lautan. Seperti banjir air bah yang kemudian menghanyutkan hal-hal remeh yang terlalu susah untuk ingat.
Lalu saya pun menatap senja yang telah pudar itu benar-benar menjadi gelap yang terlalu pekat. Dan ketika sedang asik menulis pada bagian klimaks catatan yang semula kecil perlahan jadi panjang, sebuah riuh bebunyian terdengar. Tapi saya terlalu acuh untuk kemudian berhenti dan peduli.
Malam akhirnya benar-benar tiba dan serangkaian cahaya serupa barisan kunang-kunang mulai bermunculan. Menciptakan bias warna merah, biru, kuning, hijau, dan putih polos. Tembok tembok yang kemudian temaram menjadi angkuh dengan lunturan warna. Saya pun masih tak peduli dan terus menulis catatan kecil yang menjadi panjang. Seperti sebuah janji tak akan ada istirahat sebelum usai penaklukan.
“Kriiuiuiuiuiuiuiuik” dan bunyi itu benar-benar memecah konsentrasi yang sedari pagi bangun dengan motivasi keangkuhan. Saya terpaksa harus tunduk kali ini. Dengan malas saya berdiri berjenjang dan mulai menenggak air tawar. Seperti penawar dari semua racun yang menemani habis seharian.
Sedikit lagi selesai. Begitu saja dalam pikiran saya terus menerus berulang-ulang dan terus menerus. Menyelesaikan catatan kecil yang terlanjur panjang. Saya pun membacanya pelan-pelan. Dengan kerendahan hati seorang pendosa. Di tengah keheningan malam yang bahkan tak satupun setan yang sudi gentayangan. Lantas saya berkata lirih “Meh kok jadinya puisi galau?”
“Ctrl Alt Del.”
Terseduh
Kurangkai kata- kata agar terbaca
dengan jelas dan fasih untuk menulis.
aku mendengarkan jeritan mu ini dengan jeli teman,
tak sepatah kata pun aku berbicara.
dengan linangan air mata mu hati ku terasa terseduh seperti teh di pagi hari.
baik,dengan tulisan kecil ini mulai melukis mu dgn cerita. :)
Aku sedang tak ingin tertawa.
Tak ingin tersenyum.
Dan Tak ingin juga marah.
Untukmu aku hadir, sebagai pelengkap taman walau terabaikan, semak belukar selalu tegar, menjaga bunga dari luka*
Satu tarikan napas panjang tak pernah dapat selesaikan rindu. Aku gila. Gila karena merindumu. Akal sehat terbawa menuju udara yang serpihkan asa. Tolonglah, aku bisa mati dengan rindu ini, Tuan. Izinkan semesta hadirkan matamu yang unggun di selasar cintaku, dua detik saja. Kemudian akan kupatahkan detik yang berdetak tak tahu diri.
Kemudian aku akan berdiang pada wujudmu, berlindung dari gigil rindu yang jatuhkan gerimis di hati
Ingin kukangkangi sepi, langkahi waktu dan terbang menuju bahumu. Izinkan aku bersandar di sana, sebentar saja. Sedetik. Janjiku, sedetik. Sebab terlalu lama akan membuat kepalaku terbakar. Aku takut. Ingatan tentangmu akan berderak-derak dimakan api kemudian mengabu setelahnya.
Dengan apa kubahasakan lagi o, Tuan. Sedang kuiris nadiku sendiri tentang rasa yang inginkan temu ini. Rinduku sudah kegendutan! Cukuplah kiranya senja menjadi penerang waktu kita bercinta nanti. Dalam senyap menuju malam yang berbunyi riang. Apakah rinduku rumit? Serumit bayang senja tenggelam di garis barat begitu?
Ah, tanyaku tak pernah kau jawab. Bahkan dengan satu tarikan alis pun kau enggan. Rinduku kehilangan teman. Sangkaanku.
Kudekap kau dalam ketiadaan, membawamu pulang ke tempat tak bernama namun terasa ada*
Kemana kini harus kuadukan perihal rasa tak berkesudahan? Tanyaku pada langit, kini. Ia mengedip sekali. Kemudian diam. Dan kepalaku mulai sakit, dipenuhi banyak kupu-kupu merah. Kemudian kubayangkan diriku menjadi ia, terbang sambil bernyanyi. Sembunyi di balik rimbun pohon silver dust kala hujan. Salah hinggap, kebasahan dan sayap merahnya kian cantik.
Aku tak hendak alpa dengan janji yang pernah kutorehkan pada lazuardi biru, pun ketika badai rasa tak sengaja menghapus hadirnya
Hendak kulukis engkau dalam langit ingatan saja. Kemudian kupindahkan ke hati. Sampai seumur jantungku berdenyut. Tak akan hilang hanya karena kepalaku terbentur. Tak hendak kuminta persetujuanmu, Tuan. Aku memang mencurinya. Hukumlah, jika kau bersedia. Penjarakan aku dalam sekat hatimu.
Kemudian lamat-lamat kudengar sebuah sajak bernyanyi di kepalaku. Mengejek waktu yang mulai kukalahkan sambil kuseka air yang menggenang di ujung pelupuk.
Bila badai menghampiri, kurangkai janjimu serupa pelangi melengkapi cakrawala aksaraku*
Rabu, 12 Juni 2013
Pandangan Sejenak
Mari bicara sejenak santai dan mulai ngobrol tentang hidup melalui secangkir kopi.
Menikmati secangkir kopi panas yang baru saja di seduh di sore yang hujan itu bagaikan mencoba menyelami sisi lain keindahan dari kehidupan ini.
Masih mengepul dengan buih-buih di permukaan, terpeluk rapi oleh cangkir berwarna putih keabu-abuan, tersaji menggoda di atas meja, hanya sejengkal dari tangan kanan yang sibuk dengan mouse komputer atau laptop.
menunggu saat tepat mencium keindahan yang hadir dari ujung cangkir itu. Keindahan akan kerinduan yang terkemas pada secangkir kopi, disaat duduk-duduk santai sambil ditemani membaca buku yang ringan dengan kening berkerut & mata yang berbinar-binar
Senandung suara
Dikala gemerintik suara hujan,
ceritakan padaku sekali lagi semua kisah yang ku lewatkan.
Tentang manisnya setiap kata dan juga harumnya guratan makna.
Ketika langit membentang sempurna dan mengaburkan batas khayal juga kenyataan.
Biarkanlah petir-petir itu teriak dan hujan semakin menyentak dalam kecemburuan.
Lalu terbukalah semua mata akan sebuah rasa.
Akan kutampung hujan ini untuk membasuh setiap lukamu.
Lalu kita senandungkan lagu tentang haru, juga dosa-dosa yang teredam di dinding-dinding langit
Tentang debur ombak yang menampar-nampar pantai, tentang impian dan juga angan.
Lalu kita bersulang untuk kehidupan.
Dan saat menjelang, aku akan menghilang dijemput terang.
Siang yg bermanfaat
Di suatu siang yang cerah, tepatnya ketika jarum jam menunjukkan pukul 12. Saya sengaja absen dari makan siang bersama teman-teman kantor dan bergegas meluncur dipanasnya aspal untuk mencari tukang kunci.
Tidak butuh waktu lama, hanya sekitar 5 menit saya mengendarai motor dengan kecepatan biasa Mata dan kepala saya yang sebelumnya celingak-celinguk langsung konek dengan lapak lusuh beratapkan spanduk bekas, ukuran seadanya dan sebuah papan reklame dari triplek lapuk yang bertuliskan ¨AHLI KUNCI¨.
Saya yang masih belum yakin mencoba memastikan, kali ini dari jarak cukup dekat dan pandangan yang sedikit berat, saya berhenti tepat di depan lapak. Ya, kali ini lengkap! Mesin pembuat kunci yang kelihatan berat tanpa karat pun terlihat. Namun hanya satu yang kurang, dimanakah si tukang kunci?
Dengan yakin saya pun bertanya dengan ibu penjaga warung gerobak yang bersebelahan dengan lapak tukang kunci. ¨Tukang kuncinya kemana, bu?¨, tanya saya. ¨Oh, lagi shalat kayaknya dek. Ditunggu aja.¨ jawab ibu penjaga warung., saya pun menunggu.
Sesekali pandangan saya tertuju pada lapak lusuh dan mesin pembuat kunci tanpa merk yang terlihat antik. Saya pun semakin penasaran dengan mesin tersebut. Ada dua buah roda besi bergerigi seperti gergaji mesin. Entah fungsinya sebagai apa? Belum sempat rasa penasaran terjawab dan tersadar jarak saya ke mesin itu semakin dekat, Si tukang kunci datang dengan wajah sedikit berkeringat.
Si tukang kunci pun bertanya kepada saya seiring deru napasnya yang berat, mungkin dia habis berlari tadi, ¨Bikin kunci, dek?¨ Saya pun menjawab, ¨Iya, pak!¨ sambil merogoh kantong berusaha mengambil kunci rumah yang mau saya duplikasikan.
¨Satunya berapa pak?¨ Saya pun bertanya. ¨Tujuh rebu aja, dek.¨ Jawab si tukang kunci. Lalu si tukang kunci pun melakukan keahliannya. Memperhatikan kontur bentuk kunci secara detail, sesekali dari jarak dekat dengan kening berkerut-kerut.
Sambil memperhatikan si tukang kunci, beberapa kali saya mengalihkan pandangan ke arah jalan raya dengan segala kesibukannya, ramai sekali. Lalu lalang kedaraan dan deru mesin yang bersautan dengan bunyi klakson merupakan pemandangan rutin dan biasa bagi si tukang kunci. Dengan kaos kusut berbalut celana cingkrang satu jengkal dibawah lutut, si tukang kunci sibuk mengukur setiap garis sisi kunci yang saya berikan.
melupakan sejenak makan siang yang terlewatkan. Saat itu pula datanglah anak kecil, dengan tas slempang coklat sedikit agak berat menghampiri si tukang kunci. Anak itu mencium tangan dan mengucapkan salam kepada si tukang kunci, jelas menjawab bahwa tukang kunci itu adalah bapaknya. Sadar saya perhatikan, anak itu pun membalas dengan tatapan lalu pergi bergegas tanpa kesan tanpa pesan.
Perlahan pikiran saya melayang dan menyeberang ke sisi kehidupan si tukang kunci yang memainkan perannya sebagai sebuah kunci. Kunci kehidupan bagi keluarganya, kunci pintu rizki bagi anak dan istrinya. Menafkahi keluarganya dengan mengikis setiap keping batang kunci. Entah berapa penghasilan yang dia dapat setiap hari? Mungkin satu, dua atau empat batang kunci. Atau bahkan mungkin tidak sama sekali? Toh tidak setiap hari orang datang membuat kunci.
Saya pun berpikir apakah dia bahagia menjadi seorang tukang kunci? Apakah penghasilannya sebagai tukang kunci cukup untuk keluarganya? Apakah memang sudah cita-citanya menjadi seorang tukang kunci? Atau ada yang lain? Saat pikiran saya mulai ditumbuhi berbagai pertanyaan, si tukang kunci pun selesai dengan perkerjaannya sambil menyerahkan kunci yang sudah dibuatnya. Setelah menyerahkan uang lembaran pecahan seribuan dan dua ribuan untuk si tukang kunci, saya lantas beranjak.
Saya pacu sepeda motor dengan masih menyisakan kesan tentang balada si tukang kunci. Seiring laju putaran roda, saya pun mencoba menarik kesimpulan sendiri. Terlepas dari predikatnya sebagai tukang kunci, dia adalah bagian dari segelintir orang yang mencoba mencari kehidupan, sama seperti saya. Mungkin setelah ini saya akan mencoba untuk lebih menghargai kehidupan ini. Karena kunci kebahagiaan itu ada pada diri kita sendiri dengan senantiasa mengucap syukur atas nikmat yang diberi.
Selasa, 11 Juni 2013
)o)o___(o(o
Kisah ini terjadi di Beijing China, seorang gadis bernama Yo Yi Mei memiliki cinta terpendam terhadap teman karibnya di masa sekolah. Namun ia tidak pernah mengungkapkannya, ia hanya selalu menyimpan di dalam hati dan berharap temannya bisa mengetahuinya sendiri. Tapi sayang temannya tak pernah mengetahuinya, hanya menganggapnya sebagai sahabat, tak lebih.
Suatu hari Yo Yi Mei mendengar bahwa sahabatnya akan segera menikah hatinya sesak, tapi ia tersenyum “Aku harap kau bahagia“. Sepanjang hari Yo Yi Mei bersedih, ia menjadi tidak ada semangat hidup, tapi dia selalu mendoakan kebahagiaan sahabatnya.
12 Juli 1994 sahabatnya memberikan contoh undangan pernikahannya yang akan segera dicetak kepada Yi mei, ia berharap Yi Mei akan datang, sahabatnya melihat Yi Mei yang menjadi sangat kurus & tidak ceria bertanya “Apa yang terjadi dengamu, kau ada masalah?”
Yi mei tersenyum semanis mungkin ”Kau salah lihat, aku tak punya masalah apa apa, wah contoh undanganya bagus, tapi aku lebih setuju jika kau pilih warna merah muda, lebih lembut…” Ia mengomentari rencana undangan sahabatnya tesebut.
Sahabatnya tersenyum “Oh ya, ummm aku kan menggantinya, terimakasih atas sarannya Mei, aku harus pergi menemui calon istriku, hari ini kami ada rencana melihat lihat perabotan rumah… daag“. Yi Mei tersenyum, melambaikan tangan, hatinya yang sakit.
18 Juli 1994 Yi Mei terbaring di rumah sakit, Ia mengalami koma, Yi Mei mengidap kanker darah stadium akhir. Kecil harapan Yi Mei untuk hidup, semua organnya yang berfungsi hanya pendengaran, dan otaknya, yang lain bisa dikatakan “Mati“ dan semuanya memiliki alat bantu, hanya mukjizat yang bisa menyembuhkannya.
Sahabatnya setiap hari menjenguknya, menunggunya, bahkan ia menunda pernikahannya. Baginya Yi Mei adalah tamu penting dalam pernikahannya. Keluaga Yi Mei sendiri setuju memberikan “Suntik Mati“ untuk Yi Mei karena tak tahan melihat penderitaan Yi Mei.
10 Desember 1994 Semua keluarga setuju besok 11 Desember 1994 Yi Mei akan disuntik mati dan semua sudah ikhlas, hanya sahabat Yi Mei yang mohon diberi kesempatan berbicara yang terakhir, sahabatnya menatap Yi Mei yang dulu selalu bersama.
Ia mendekat berbisik di telinga Yi Mei “Mei apa kau ingat waktu kita mencari belalang, menangkap kupu kupu?… kau tahu, aku tak pernah lupa hal itu, dan apa kau ingat waktu disekolah waktu kita dihukum bersama gara gara kita datang terlambat, kita langganan kena hukum ya?”
“Apa kau ingat juga waktu aku mengejekmu, kau terjatuh di lumpur saat kau ikut lomba lari, kau marah dan mendorongku hingga aku pun kotor?… Apakah kau ingat aku selalu mengerjakan PR di rumahmu?… Aku tak pernah melupakan hal itu…“
“Mei, aku ingin kau sembuh, aku ingin kau bisa tersenyum seperti dulu, aku sangat suka lesung pipitmu yang manis, kau tega meninggalkan sahabatmu ini?….” Tanpa sadar sahabat Yi Mei menangis, air matanya menetes membasahi wajah Yi Mei.
“Mei… kau tahu, kau sangat berarti untukku, aku tak setuju kau disuntik mati, rasanya aku ingin membawamu kabur dari rumah sakit ini, aku ingin kau hidup, kau tahu kenapa?… karena aku sangat mencintaimu, aku takut mengungkapkan padamu, takut kau menolakku“
“Meskipun aku tahu kau tidak mencintaiku, aku tetap ingin kau hidup, aku ingin kau hidup, Mei tolonglah, dengarkan aku Mei … bangunlah…!!“ Sahabatnya menangis, ia menggengam kuat tangan Yi Mei “Aku selalu berdoa Mei, aku harap Tuhan berikan keajaiban buatku, Yi Mei sembuh, sembuh total. Aku percaya, bahkan kau tahu?.. aku puasa agar doaku semakin didengar Tuhan“
“Mei aku tak kuat besok melihat pemakamanmu, kau jahat…!! kau sudah tak mencintaiku, sekarang kau mau pergi, aku sangat mencintaimu… aku menikah hanya ingin membuat dirimu tidak lagi dibayang-bayangi diriku sehingga kau bisa mencari pria yang selalu kau impikan, hanya itu Mei…“
“Seandainya saja kau bilang kau mencintaiku, aku akan membatalkan pernikahanku, aku tak peduli… tapi itu tak mungkin, kau bahkan mau pergi dariku sebagai sahabat“
Sahabat Yi mei berbisik ”Aku sayang kamu, aku mencintaimu” suaranya terdengar parau karena tangisan. Dan apa yang terjadi?…. Its amazing !! ”CINTA“ bisa menyembuhkan segalanya.
7 jam setelah itu dokter menemukan tanda tanda kehidupan dalam diri Yi Mei, jari tangan Yi Mei bisa bergerak, jantungnya, paru parunya, organ tubuhnya bekerja, sungguh sebuah keajaiban !! Pihak medis menghubungi keluarga Yi Mei dan memberitahukan keajaiban yang terjadi. Dan sebuah mujizat lagi… masa koma lewat…. pada tgl 11 Des 1994.
14 Des 1994 saat Yi Mei bisa membuka mata dan berbicara, sahabatnya ada disana, ia memeluk Yi Mei menangis bahagia, dokter sangat kagum akan keajaiban yang terjadi. “Aku senang kau bisa bangun, kau sahabatku terbaik“ sahabatnya memeluk erat Yi Mei .
Yi Mei tersenyum “Kau yang memintaku bangun, kau bilang kau mencintaiku,tahukah kau aku selalu mendengar kata-kata itu, aku berpikir aku harus berjuang untuk hidup“ “Lei, aku mohon jangan tinggalkan aku ya, aku sangat mencintaimu” Lei memeluk Yi Mei “Aku sangat mencintaimu juga“.
17 Februari 1995 Yi Mei & Lei menikah, hidup bahagia dan sampai dengan saat ini pasangan ini memiliki 1 orang anak laki laki yang telah berusia 14 tahun. Kisah ini sempat menggemparkan Beijing.
Dari kisah ini kita bisa belajar tentang dua hal penting: komunikasi dan asumsi. Betapa banyak orang menderita hidupnya hanya karena dua hal ini, salah asumsi dan salah komunikasi. Buang jauh-jauh asumsi, dan utamakan komunikasi.
Komunikasikan keinginan, perasaan, pikiran kita dengan sebaik mungkin entah itu di rumah, di lingkungan kerja, di sekolah, di mana pun juga. Jika kita mampu memanfaatkan kekuatan komunikasi ini dengan baik, hidup kita akan terasa lebih mudah dan mungkin malah lebih baik.
Pelajaran
Ungkapkan rasa suka... Sayang atau cinta kalian
Jangan dipendam terlalu lama
Bagi wanita
Kita boleh ungkapkan duluan
Asal δεηƍαη kehrmatan dan harga diri seperti siti Khadijah saat menyatakan perasaan nya pada Nabi Muhammad SAW
;)
%$$#@&*^%$##@!
http://keluargamuslim.wordpress.com/2006/11/17/menyikapi-istri-yang-sudah-tidak-perawan-2/
http://arsitek-peradaban.abatasa.co.id/post/detail/8164/wanita-sholehah:-bidadari-syurga-terindah
http://edukasi.kompasiana.com/2013/04/09/hak-dan-kewajiban-suami-istri-dalam-islam-549662.html
http://www.bersamadakwah.com/2013/02/kisah-nyata-keajaiban-sedekah-diganti.html
http://muslimsein.wordpress.com/2011/09/09/dahsyatnya-sedekah-di-hari-jumat/
http://alqolam.net/keutamaan-sedekah-hari-jumat/
http://www.voa-islam.com/islamia/aqidah/2012/12/06/22199/minta-didoakan-saat-memberikan-sedekah-bolehkah/
Mawar
Kisah nyata seorang wanita cantik bernama ” Mawar” yang menetap di kota Perth . Membuat saya ingin berbagi di sini. Atas izinnya saya edit dan tulis ulang, semoga bermanfaat untuk kita semua.
Ketika aku berlibur ke Indonesia, aku tinggal dirumah mama yang baru saja dibangun. Saat menjelang magrib, terdengar ceramah dari radio tetangga persis di depan rumah mamaku. Ternyata pemilik rumah adalah ibu R.
Setelah kudengar ceramah itu lalu kukatakan pada mama :
” Masya Allah ya ma..tetangga mama ibu R seorang muslim yang baik sekali.”
” Ibu R memang setiap hari mendengarkan ceramah dari radio Muslim Jakarta nak..” jawab mamaku.
Aku ingin sekali mengenal ibu R dan mendengarkan dari dekat isi ceramah itu. Lalu kudatangi rumah beliau dan aku disambutnya dengan ramah.
” Masya Allah ibu, saya seneng sekali dengar ceramah dari radio ibu, makanya saya kesini.”
” Sini neng masuk ngga apa apa. ” ujar Ibu R sambil mengajakku masuk.
” Neng, ibu baru 3 tahun pakai jilbab, dulu ibu suka pakai celana pendek. ” lanjut ibu R.
” Sama dong bu, tapi saya baru enam bulan pakai jilbab. Entahlah tiba tiba ada dorongan kuat di hati saya agar segera berjilbab. “
Alhamdulilah ya Allah sungguh besar karunia yang Engkau berikan pada hambamu yang fana ini. Kini sudah kupatuhi perintahMu ya Allah.
Sungguh banyak kisah kisah indah ketika aku berada di Jakarta. Teringat ketika aku sholat Idul Fitri , ada seorang ibu sebut saja ibu B yang baru saja khatam membaca Al-Quran Tangannya gemetar dan kulihat beliau mencucurkan airmata. Lalu ia kusapa.
“Masya Allah, ibu baru khatam membaca Al Quran, betapa terharu saya melihat air mata ibu. “
” Benar nak, saya sering membaca Al Quran karena saya sangat yakin bahwa Al Quran adalah pedoman hidup seorang muslim.” Jawab ibu B dengan bahasa Inggris.
Lalu ibu B bercerita bagaimana ia mendidik anak anaknya , kini mereka tumbuh dewasa , mandiri dan taat beragama.
” Dalam hidup ini, kamu harus khusnul yakin. Selalu bersedekah dan ingatlah didalam hartamu itu , 2,5 % adalah hak anak anak yatim dan orang orang miskin. Banyak anak anak yatim yang saya sekolahkan karena saya yakin bahwa harta yang saya miliki datangnya dari Allah, disana ada hak mereka.
Saat itu anakku Zaiden berlarian lalu aku minta maaf karena anakku bandel. Ibu B dengan tersenyum lalu menjawab.
” Anak kecil memang sudah biasa seperti itu, biarkan saja nak ia bermain, kamu jangan khawatir dengan kenakalannya. Ada malaikat Allah yang menjaga, karena anak anak mahluk yang suci. Kita awasi saja dari jauh. ” Duh sejuknya mendengar kata kata Ibu B.
Ketika bicara denganku beliau selalu tersenyum . Dari pakaian dan tasnya kubisa menilai bahwa ibu ini orang yang sangat kaya, tapi jauh dari sifat sombong. Subhanallah, Allah memang menunjukan sesuatu padaku dengan berbagai cara, diantaranya bertemu dengan wanita wanita solehah seperti ibu R dan Ibu B.
Sungguh sebagai orang yang baru bertobat dan berjilbab kadang aku sangat khawatir menghadapi hidup ini, apalagi sebagai seorang ibu , aku takut salah dalam membimbing anak anakku. Namun setelah aku bertemu dengan Ibu R , Ibu B dan mendengar kisah orang orang beriman, kini kutahu jawabannya yaitu menjalankan perintah Allah, jauhi larangannya. Bacalah Al Quran dan amalkan. Kuyakin Allah akan selalu menolongku.
Semoga kisahku ini bermanfaat bagi saudara saudara muslimku dimana saja . Insya Allah amin.
Catatan :
Terima kasih untuk VCM (Mawar ) yang sudah berbagi kisah
?!!??
seorang wanita berjalan terhuyung-huyung. Pakaiannya yang serba hitam menandakan bahwa ia berada dalam duka cita yang mencekam.
Perempuan cantik itu lalu berjalan masuk sambil kepalanya terus merunduk.
Air matanya berderai tatkala ia berkata, "Wahai Nabi Allah. Tolonglah saya, Doakan saya agar Tuhan berkenan mengampuni dosa keji saya." "Apakah dosamu wahai wanita ayu?" tanya Nabi Musa as terkejut.
"Saya takut mengatakannya." jawab wanita cantik. "Katakanlah jangan ragu-ragu!" desak Nabi Musa. Maka perempuan itupun terpatah bercerita, "Saya ......telah berzina." Kepala Nabi Musa terangkat, hatinya tersentak.
siksa Allah tidak jatuh ke dalam rumahku karena perbuatanmu. Pergi!"
Ia tidak tahu bahwa sepeninggalnya, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa. Sang Ruhul Amin Jibril lalu bertanya, "Mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak bertobat dari dosanya? Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar daripadanya?" Nabi Musa terperanjat.
"Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita pezina dan pembunuh itu?" Maka Nabi Musa dengan penuh rasa ingin tahu bertanya kepada Jibril.
"Betulkah ada dosa yang lebih besar dari pada perempuan yang nista itu?" "Ada!" jawab Jibril dengan tegas. "Dosa apakah itu?" tanya Musa kian penasaran. "Orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja dan tanpa menyesal. Orang itu dosanya lebih besar dari pada seribu kali berzina".
Mendengar penjelasan ini Nabi Musa kemudian memanggil wanita tadi untuk menghadap kembali kepadanya. Ia mengangkat tangan dengan khusuk untuk memohonkan ampunan kepada Allah untuk perempuan tersebut.
Dikutip dari buku 30 kisah teladan - KH > Abdurrahman Arroisy) Dalam hadist Nabi SAW disebutkan : Orang yang meninggalkan sholat lebih besar dosanya dibanding dengan orang yang membakar 70 buah Al-Qur'an, membunuh 70 nabi dan bersetubuh dengan ibunya di dalam Ka'bah.
Menikam Kesalahan
hujan di pagi ini seakan menikam ku dengan keslahanku.
sepanjang jalan hujan ini turun dengan deras.
bahwa menandakan kesalahan ku ini menyakiti dia.
mulut ini hanya terdiam air mata ini deras seperti hujan di pagi ini.
ya allah maaf kan aku sudah menyakiti dia.
jika di beri kesempatan untuk ke 2 kalinya.
aku ingin memperbaiki dan menghabiskan sisa umur ku
bersama dia....
mungkin ini tak akan mudah.
tapi aku akan berusaha.
ya allah terasa sesak napas ini.
urat nadi ini terasa panas.
seakan jiwa ku ini menghukum ku.
atas perbuatan ku.
ya allah maaf kan aku.
pagi ini benar2 terasa menyakitkan bagi ku.
ingin bersandar pada mu untuk sejenak terpejam.
ini rasa menghentikan waktu.
menghentikan aliran darah ini.
tapi aku tak bisa berpikir
pagi ini serasa hati dan jiwa ku mati.
walau pun tubuh ini tersigap.
tegar kan aku ya allah.
Rabu, 05 Juni 2013
*******
ku mencoba melangkah di atas jalan cinta...
terkadang ku menari-nari dengan riang saat melaluinya...
dan terkadang ku melangkah tertatih dan menahan perih...
ku mencoba mencari di sekitar jalan ini...
mencari akan kemanakah jalan ini berujung...
dengan langkah ragu dan bertanya ku coba untuk tetap melangkah...
walaupun kadang ku melewati jalan penuh berduri...
ku mencoba bertahan dan tetap melanjutkan langkahku...
hingga sekian lama ku berjalan seorang diri
ujung pun belum kutemui...
kurasakan kaki ini berdarah-darah dan hatiku pun juga...
ku ragu akankah ku sanggup untuk melanjutkan langkahku...
akankah ku temui jalan akhir dari semua perjalanan ini...
jauh ku melangkah semakin panjang ku rasakan jalan ini berliku...
ingin ku mencoba berlari tapi ku tak sanggup menahan perih...
ingin ku berhenti dan mengakhiri perjalanan ini tapi ku tak rela...
dan untukku lanjutkan pun rasanya ku tak mampu...
ku rasakan berjuta dilema merasuki setiap relung hati ini...
harus kemanakah aku sekarang...
ku ingin berhenti sejenak... tapi cinta telah pergi jauh...
perjalananku terpaksa kuakhiri sampai disini...
yang kudapati hanyalah kesunyian...
(()*()(*)(*)*
Semua orang sepakat, menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan. Kursi empuk yang seharusnya nyaman, berubah bagai pemanggang. Lukisan pemandangan di sudut ruang, tak mempu lagi mengobati rasa bosan. Punggung kemudian mendadak pegal karena kepenatan yang tak berkesudahan. Sungguh, suatu pengalaman yang tidak mengenakkan. Banyak lagi cerita lain dengan kesimpulan sama, menunggu memang membosankan. Proses menunggu terkait dengan masalah janji, seharusnya juga dengan masalah sabar. Janji dan sabar, dua kalimat yang berbeda makna, namun terkait dalam pengertian yang positif. Seseorang yang berjanji berarti telah menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat, seperti hendak memberi, menolong datang atau bertemu. Sedangkan sabar adalah tahan menghadapi cobaan, tidak lekas marah, tidak lekas putus asa dan tidak lekas patah hati. Tapi kadang, keduanya sangat sulit berjalan berdampingan. Memang benar, janji yang menurut pepatah bisa dipersamakan dengan hutang, harganya sangat mahal untuk dikhianati. Tak heran kalau banyak orang ditinggalkan relasi dan sahabatnya karena dinilai tidak disiplin dalam menepati janji. Sebab, disiplin merupakan sikap mental bertanggung jawab yang semestinya menyatu dalam diri. Pilihan seseorang untuk menjauh dan tak lagi percaya karena telah dikhianati, tak bisa disalahkan. Tapi, tak adakah cara lebih baik untuk menyikapi persoalan tersebut? Islam mengajarkan kita tentang kesabaran tak terbatas. Sayangnya, sangat sedikit orang yang tetap bersabar dalam kondisi menunggu yang cukup lama. Padahal tanpa disadari, telah tercipta momentum kawah candradimuka bagi manusia untuk melatih kesabaran. Semakin bisa bertahan dengan kesabaran, maka mental dan pikiran akan terasah untuk mengatasi kemarahan Bukan hanya itu, menunggu membuat kita bisa lebih memahami betapa pentingnya menghargai waktu.
Mimpi?????
Hidup tidak akan pernah sama lagi saat kau memutuskan mengejar mimpi itu, mimpi yang bahkan pernah terlintas di pikiranpun tidak, mimpi mendadak, mimpi tiba-tiba. Tiba-tiba saja bermimpi kemudian giat sekali mengejarnya, masa bodoh dengan mimpi-mimpi yang sudah dirancang bersama, masa bodoh dengan lembaran-lembaran kertas yang menjadi saksi bisu bahwa kita pernah merancang sedetail mungkin segala sesuatunya. lembaran-lembaran itu masih bagus, belum usang. Hanya saja sepertinya harus kusimpan terlebih dahulu sampai tiba saat yang tepat nanti meraihnya, entah tahun depan, tahun depannya lagi, atau kapanpun, tergantung situasinya.
Yang jelas sekarang pikiran, jiwa, dan raga kita terfokus pada mimpi mendadak itu, yang membuat hidup kita tidak akan pernah sama lagi.
Sejujurnya aku kaget, aku syok, aku tidak pernah bahkan sampai sekarang belum bisa membayangkan akan bagaimana nantinya. Tapi tenang saja kekagetanku ini tidak penting, hanya sesaat. Tenang saja, perlahan aku akan mencoba menyesuaikan diri, mematut-matut di depan cermin, memantaskan diri walau sampai sekarang belum kutemukan “gaya” yang bagus, “gaya” yang sesuai.
Tapi tenang saja, aku akan selalu mendukungmu, mendukung mimpi mendadak itu terwujud. Tanganku tidak akan melepaskan genggamanmu, sekuat apapun nanti goncangan yang mengoyaknya, aku akan tetap bersamamu, berjalan bersisian.
^^^^^
Getar corak halintar meronta menggelegar merekat bahtera jingga
Lantang warna arwana mengusur tiang kejora padamkan gelora..
Senyap lelap padam tak ada kabar sedari pagi hingga hari meringsut malam
Gelisah mencengkram tak kuasa memikul beban asa terlalu dalam..
Misi meniti hari tuangkan nadi tuk temukan bekohan hati yg mengguras peri
Ku tulusuri diilain sisi ada ambisi yg sulit ku lepasi ada dirimu ditiap angan terkunci..
Kenapa ruang hati ku terasa hampa mendayu hanya ada rindu yg mengetuk segala nalar ku
Pilu terbelenggu sosok mu selebihnya ada bayang mu memantul didinding batu ketika deru nafas mu menguras jiwa ku..
Sayang,dimana dirimu mu..?
Pada mu cinta ingin ku akhirkan
Pada jua asa ini kan ku labuhkan..
Kau telah renggut smua jiwa hingga tulang kering tak tersisa hingga menembus akar2nya
Hanya bahagia yg ku raba ketika cinta mu datang mengetuk tiba2..
Satu janji tlah ku patri satu jiwa kan ku bela
Kan ku gengam asa mu tampa sisa saat bibir indah mu mengucap akulah satu2nya..
Sayang..
Gemulai rintik melambai berderai tak ubahnya mata langit teteskan hujan
Gumpalan datang melenggang tak diundang hadir mu kini penuh pesan
Terang awan kencang derap tak mampu ku melawan..
Kau telah memenangkan jiwa ku setelah rindu menghujam berulang-ulang..
Jauh bukanlah penghalang kau tetap yg ku sayang tak kan tergantikan..
I miss u sayang..
Ku akan tetap menikmati semua yg ada pada mu
Mesti rindu menjungkirbalikan waras ku
Ku akan tetap menunggu sampai rindu ku menemui titik ketiadaan kau bebas ku dekap erat dipundak ku&mengecup kening mu..
Emmmmuuuuach..
I love u sayang..
Ku akan tetap menanti walau panas terik kan ku jalani besar gulungan ombak kan ku lalui..
Seperti pucuk2 cemara menahan posisinya kala terpaan angin mengeliat menyapa
Seperti itu lah asa ku bertahan diatas terpaan angin menyapa
Ku akan setia menjaga rindu&cinta ini sampai kita bertemu disatu senja...
Prasasti
Lembut daun benalu terlukis sendu mendayu terdengar alunan merdu berdendang irama rindu..
Menggelegarlah diantara secawan madu meringsut diatara kerudung suci mu..
Ku mendesah berjalan menempuh ingin berteduh dari segala keluh&gaduh..
Kasih..
Ku disini ada untuk mu tak lupa menyebut nama mu dalam gumpalan desir membungkus jantung ku..
Lirih termanggu awan mencumbu mencium harum lentera tubuh meraih pundak mu merasakan betapa ku sangat menyayangi mu..
Luapan kasih sayang mu bersatu menyulam jiwa dibeningnya kalbu..
Ku ingin berhenti di tapak kaki mu
Seperti mendekap dua lengan ku membalut penuh janji setia ku..
Ku ingin menjadi bagian dalam hidup mu..
Ya Alloh,,,
Jika dia adalah jodoh takdir yg Engkau berikan...
Maka berikanlah jalan terang jalan penuh kesabaran biar kami bisa lewati cobaan yg Engkau berikan...
Berikan gumpalan kekuatan hingga kami bisa membagun jembatan kasih sbg suami istri yg ditasbihkan...
Andai Engkau berkenan,
limpahkan kepada kami,
Cinta yang menjadikan
pengikat rindu antara Rasulullah&Khadijah..
Ya Alloh..
Betapa kami saling mencintai,hilangkanlah ego kami...
Musnahkan sifat benci kami...
Jauhkan dari misteri yg menghambat diri...
Kuat kan lah ikatan kami diatas janji setia ini...
Sampai nanti sampai kain putih mengkafani diri kami...
Ya Alloh,,
Sempurnakanlah kebahagiaan kami dengan menjadi kan hubungan ini sebagai ibadah kepada-Mu&bukti cinta kami kepada sunah Rasul-Mu..
Ya Alloh,,
Pada satu jiwa cinta telah menemukan bejananya..
Dah berapa tahun hubungan ini berlalu melibas masa
Mengukir tiap inci kenangan yg tercipta
Entah tanggis atau tawa dua2nya bermakna ribuan kata..
Ya Alloh..
Terima kasih Engkau telah menciptakan dia..
Terima kasih Engkau telah mempertemukan
aku dengannya..
Terima kasih untuk saat2 indah yang dapat
kami nikmati bersama..
Terima kasih untuk setiap pertemuan yang
dapat kami lalui bersama..
Sucikan hati kami Ya Allah,,
Sehingga kami dapat melaksanakan kehendak&rencana-Mu dalam hidup kami
Semoga Engkau ridhoi hubungan kami untuk bersatu mengarungi sisa umur kami..
Ya Alloh,,
Betapa Maha Besarnya Engkau karena telah memberikan kepada kami pasangan yang dapat membuat hidup kami menjadi bahagia
Walaupun hubungan kami terhalang laut&samudra...
Rapuh...
Jejampian hati pemikat sukma
Luluh mengalun jiwa rapuh pada labuan aksara
Pintalan hati letupan rasa
Hitam putih bias trsembunyi
Labuhkan aku dalam dekapmu,
seperti anak kecil damai pada indungnya.
Seperti malam menjedi setia pada kelam
Seperti kayu kepada api..
Bungkam lesung sepi yg memaku di dataran jiwaku
labuhkan aku disisi bahtera hatimu
Rayu..
Jgn ko petik bara kesumat dalam hatiku,
krn semua tlah ku bingkai pada sepasang nisan atas nama palsu.
sssttttt.....
Adalah bibit yg kusemai di ladang kaki dan imajiku
Rekat kugenggam smpai esok menjelang
Hembusan waktu..
Seperti orang tua,penuh kasih menuntunku..
Kubang dijalanan hiruk menghampiri.
Sebentar...aku ingin perlahan menipumu,tp tak mampu.
Siang malam adalah pentas sandiwara
Sedang diri..
Tak ubah Menanti kapan aku akan memainkan lakon cerita ini.
Harapan....adlah kakiku,mataku jg uratku yg menjadi kekar..
Selasa, 04 Juni 2013
Syairr
rencak rencak syair bersahutan
warna warni tinta pada tulisan
ekspresi dari jiwa jiwa pecinta
tebar hati melalui imaji rasa...puisi
puja memuji syair berdendang
cibir menyindir kata kata penyair
bernyanyi rindu pujangga menggores hati
lantunkan penghambaan pada Sang pencipta
gemuruh sorak sorai syair pujangga
bertahutan pada ranai sastra puisi
begitu merdu meski terdengar sumbang
syair-syair ekspresi luapan jiwa
tak peduli meski mengagumi
mengagumi meski ingin lebih di kagumi
berkata dalam hati meski tak bicara
merangkai kata...bicara lewat puisi
terima kasih telah berbagi
pada setiap imaji rasa yang terlukiskan
begitu indah menarik diri untuk membaca...
menarik hati...menuangkan nya kembali lewat syair
saling berbagi dalam inspirasi
berekspresi lewat kalimat kalimat indah
mensyukuri anugrah yang di beri...
silaturahmi dalam berkarya
@&%(#@&@@@!!!
dia datang menghampiri
bersama...mengelilingi kota
pertama semenjak terakhir kali
luka tertancap di hati
haru..bertanya dalam hati
mata itu menampakkan sinar nya
kembali setelah terakhir kali
mata yang penuh tanda tanya
dia begitu ceria sepanjang jalan
tersenyum indah riang tertawa
senyuman terindah semenjak terakhir kali
senyuman yang menikam
dia kembali
menghampiri
matanya berbinar
senyum nya berkata
dia membangunan lelap
menatap atap gelap
dari balik jendela rembulan tersenyum
mimpi
dia bicara cinta
Malam????
hari ini malam begitu dingin
desiran angin semakin meninggi
rintik hujan tak jua berhenti
namun mata belum jua tertutup kantuk
meski kelopak mata telah menunjukkan isyarat
akan lelah nya hari yang telah dilalui
entah kenapa fikir masih saja bekerja tiada henti
Tuhan ku memuji cipta Mu..
betapa kau menciptakan manusia seperti ini...
dengan segala kebesaran Mu
jadikan malam ini malam yang indah dalam mimpi ku
karena ketika mata ini membuka mata
akan ku hadapi segala macam perjalanan waktu
yang membuatku sulit untuk tidak memikirkannya
aku tahu manusia hidup untuk menjalani segala permasalahan dunia...
namun Tuhan Kau maha tahu...
Tuhan nyenyakkan lah tidur ku...dan
bila engkau mengizinkan bukakanlah mata ku...untuk melihat dunia Mu kembali...
Rabu, 24 April 2013
24/04/2013
Hari ini tepatnya tanggal 24 April 2013, entah sudah berapa Bulan atau mungkin tahun aku gak denger kabar kamu, gak ada kabar kamu dari sms/telpon ataupun dari facebook. Kamu gimana kabarnya? Gimana sakit kamu? Apakah kamu baik-baik aja disana dan apakah kamu masih inget aku ? Itulah yang selama ini ada di pikiran aku tentang kamu.
Aku gak tau apakah kamu juga mikirin aku, atau malah kamu memang sengaja menjauh dan melupakan aku. Entahlah,, aku gak mau berburuk sangka sama kamu. Apapun yang kamu lakukan disana, semoga membuat kamu senang dan bahagia, dan pastinya membuat kondisi tubuh atau kesehatan kamu lebih baik.
Apa Kabar Kamu Sayang???
Aku bingung mesti gimana sama kamu, aku bingung hubungin kamu kemana. Aku coba message di Facebook kamu, tapi gak pernah kamu bales, apakah kamu beneran Lupa aku?
Buat kamu disana,Aku kangen sama kamu, aku butuh kabar dari kamu, dan aku harap kamu disana baik-baik aja.
Di Siniii
Aku memujamu dalam hening malam
Tak bersuara, tak beranjak
Kulipat kaki dan memeluknya
Aku tetap di sini
Aku murung larut malam ini
Esok tak lagi kudapati dirimu
Sepi akan memeluk ragaku
Hampa menari di hadapan jiwaku
Sesak mendekap dada
Aku tetap di sini
Tak lagi ingin aku bersua dengan penghiburanmu :
“hadapi esok..”
Kau tahu sendiri kerapuhanku
Rapuh yang terlambat kusadari
Dan hanya berujung pada air mata yang menitik
Aku tetap di sini
Kunang kunang terbang tak tentu arah
Cahayanya akan tiupkan harapan
Isyarat malam akan berganti pagi
Di alang-alang pun, cahaya adalah tetap cahaya
Aku tetap di sini
Hatiku hendak berfatwa
Dalam ragu, dalam yakin..
Ia menggenggam namamu dalam denting dawai samar lamat lamat
Mata terpejam tak kuasa menolak
Aku tetap di sini
Aku menyimpan kerinduan untukmu
Aku melipat masa lalu
Aku meyakinimu
Aku tetap di sini
Berharap datangnya satu hari
Entah akan datang ataukah berlalu dalam angan ganjil
Nyatanya awan, angin, matahari, bintangku terlanjur berarak padamu
Untuk kali ini ..,
Kamis, 28 Maret 2013
Mimpi 2008?!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Beberapa waktu lalu kita sempat membahas tentang pernikahan. Awalnya membahas tentang keharusanku sebagai pribadi untuk menikah karena tinggal di lingkungan masyarakat penuh 'perhatian' yang akan langsung merenyitkan dahi jika aku bilang aku tidak akan menikah.. dengan laki-laki tentunya. Lalu aku meyakinkanmu bahwa aku memang tidak akan menikah apapun alasannya. Di hari yang sama kamu memintaku untuk menikah dengan mu, meski lewat bbm jujur saat itu aku terkejut. Kamu ingin menikah dengan ku secara islam, awalnya aku terbengong-bengong baca bbm kamu. Dan akhirny aq menangis.. terharu.. ya saat itu aku merasa bahagia sekali.
Pernikahan adalah sebuah mimpi yang sudah lama sekali aq kubur. Karena dulu sekali aq pernah berdiskusi dengan kamu tentang menikah di luar negeri suatu saat nanti dan kamu langsung menolaknya. Dari hari itu aku berfikir tak perlu legalitas yang penting kamu menikahi hatiku dan setia padaku selamanya. cukup.
Sampai hari ini pembicaraan tentang pernikahan itu sudah terlupakan, kadang saat ku ungkit pun kamu hanya menjawab "mau nabung dulu" tanpa antusisme lagi.. hahaha.. yaaahh begitulah kamu.. terkadang kamu bisa sangat antusias terhadap hubungan kita.. tapi beberapa menit kemudian semua bisa berubah..
Tapi, sampai hari ini aku masih memikirkan tentang pernikahan itu.
memikirkan tentang bahagianya jika semua itu terwujud...
Biarlah pernikahan itu hanya jadi mimpi disudut fikiranku.. yang mungkin akan terwujud suatu saat nanti.. atau mungkin hanya akan tertumpuk dibawah mimpi-mimpi yang lain..:). yang pasti aku tidak akan pergi darimu untuk menikah dengan orang lain.
Terdiam...
Aku tak tau harus bilang apa...
Semua perasaan berkecamuk di benakku..
Mual menyesak dikerongkonganku, tapi lidahku kelu...semua hanya bisa keluar melewati pembuluh air mataku..mengacuhkan bibirku yang masih saja bungkam...
Aku si gadis sombong, yang mampu menaklukan keegoanmu akan wanita..
Tapi kini aku lemah..demi ketidak mampuanku..aku harus diam..
Ya..aku mengharuskan diriku untuk diam...
Aku si gadis kuat yang pandai memaki, menyiksamu dengan kata-kata...
Tapi kini aku lemah...demi ketiadaanku..aku harus diam...
Aku menangis dalam diam...
Entah ini apa..cobaan..godaan..perjuangan...atau ketidak tauan manusia lain akan etika..
Aku tak tau..dan tak punya kemampuan untuk mencari tau..
Aku hanya bisa berharap..
Seperti katamu..
Aku adalah wanitamu...satu-satunya dan selamanya..
**ketika manusia ada di satu titik nadir kehidupan dan mencoba bangkit dan melawan rasa sesak...
Perjuangan ini..mudah2an menjadi titik balik yang positif..dengan kamu masih slalu setia di sampingku...Amiiin3x..
Itu Saja Sudah Cukupppp....
Banyak sekali orang diluar sana yang bilang aku orang yang manja... aku orang yang menyebalkan.. aku orang yang jutek.. aku keras kepala... yaaa itu adalah aku.. bangga?? tidak sama sekali tidak.. aku sudah berusaha merubah image itu selama bertahun-tahun tapi susah.. sangat susah..
Rasa optimis muncul ketika kamu hadir di hidupku..memberi warna baru..memberi pola hidup baru.. aku si manja berubah menjadi dewasa karena kamu lebih manja.. aku yang keras kepala menjadi lebih lunak karna keegoisan kamu yang terkadang tak bisa kompromi.. aku yang jutek menjadi mudah tertawa karna ulah2 mu yang menggemaskan..
Lalu kamu menganggapku sebagai si sempurna.. baik hati dan pengertian..kamu menganggap aku pantas dipertahankan.. aku pantas dicintai..aku pantas disayang..
Aku kemudian berfikir, apakah aku sudah berubah..lebih dewasa..lebih baik..lebih ramah??? ternyata tidak.. semua masih sama..aku masih orang yang keras,, masih orang yang galak.. masih orang yang jutek.. di depan orang lain.. ya..
ternyata aku baru menyadari.. aku hanya berubah untuk kamu.. hanya kamu yang bisa melihat sisi baik dari diriku.. karena hanya kamu yang tulus.. karena hanya kamu yang slalu mengerti kekuranganku dan mensyukuri kelebihanku.. karena kamu makhluk sempurna yang diciptakan Tuhan untuk ku.. untuk membuatku menjadi sempurna..untukmu..
Tak lagi terlalu ku pusingkan orang-orang yang menganggapku gadis manja, galak, keras,,, dan lainnya..
karena yang terpenting aku tidak begitu bagimu... itu saja cukup..
Aku Di Sini.
panggil aku rembulan...karena aku tak pernah bisa bersinar tanpa mu matahariku...
panggil aku rembulan...karena saat malam aku butuh hangat mu matahari ku...
panggil aku rembulan karena saat pagi datang aku setia menemanimu meski dibalik awan...
maka panggil aku rembulan...
aku rembulan yang nakal...diam2 menculik matahari membawanya keperaduanku hingga langit merona senja..
aku rembulan yang merajuk...membiarkan sinar mu terbias sabit dan membiarkan sebagian kegelapan..
aku rembulan yang riang...menjadi purnama dan membuat para bintang berkedip melihatnya...
aku adalah sang rembulan...
ada satu hal yang tak terucap dari kebisuan rembulan...
betapa ia berterimakasih pada mentari yang tak pernah lelah memberikan sinarnya dan menghangatkan rembulan...
betapa ia ingin slalu bersama mentari meski harus menunggu dibalik awan...
betapa ia mencintai mentari meski tak ada yang tau bahwa bulan dan mentari saling mencuri hati...
matahari ku terimakasih telah mencintai dan melindungiku...
aku akan slalu disini..ditempat yang sama...disamping mu...
tak perlu dunia tau...
karena yang mereka tau matahari dan bulan tak pernah bertemu..
Ada seorang perempuan yang bertanya kepada kekasihnya ketika mereka sedang berdua. Beginilah percakapan mereka :
Perempuan : “Jika seandainya aku terjatuh dari atas gedung, apa yang akan kamu lakukan?”
Laki – laki : “Aku siap akan menangkap kamu dibawah”
Perempuan : “Hmmm, kalau seandainya aku jatuh?”
Laki – laki : “Aku akan menopang kamu dan ngobatin kaki kamu.”
Akhirnya mereka berdua-pun tertawa karena merasa malu – malu kucing dengan pertanyaan dan jawabannya masing – masing tadi. Maklumlah anak muda, hehehe.
Akhirnya, sang perempuan iseng, iya bertanya begini kepadanya pacarnya
Perempuan : “Oke deh. Sekarang, kalau seandainya aku dan mamamu tenggelam di laut, siapa yang akan kamu tolong? Kamu cuman punya satu kesempatan”
Sang laki – laki terdiam bingung. Namun akhirnya, ia menjawab dengan tegas dan yakin.
Laki – laki : “Aku akan menolong mamaku dan membawanya keluar dari air. Namun setelah itu, aku akan terjun kembali kedalam air, dan menuju takdir bersamamu. Mati bersamamu dan hidup bersamamu.
Memang aku tidak sekuat Superman yang bisa mengangkut 2 orang dalam genggamanku, tapi aku akan berusaha. Aku tidak bisa membiarkan 2 orang yang aku cintai pergi.
Jadi aku akan selamatkan mamaku, dan mati atau hidup bersamamu. Itulah pilihanku”
Hening Malam...
Keheningan malam ramaikan suasana hati
Membaur menjadi satu kesepian,
Menanti akan kehadiran,
Yang tak pernah memasti
Entah karya agung apa yang kau cipta,
Hingga rasa seakan terus mencarimu,
Menantimu tanpa pernah berharap
Namun memohon agar kau datang,
Menjadi doa utama dalam sujud itu,
Bayang bintang menjadi penerang,
Ketika keyakinan mulai gelap,
Melihat bingkai angan yang kau buat,
Menjadi batas akan itu..
Pembatas,
Akan mimpiku untukmu..
Mungkin?!!!!
Barangkali cinta…
jika darahku mendesirkan gelombang
yang tertangkap oleh darahmu
dan engkau beriak karenanya.
Darahku dan darahmu,
terkunci dalam nadi yang berbeda,
namun berpadu dalam badai yang sama.
Barangkali cinta…
jika napasmu merambatkan api
yang menjalar ke paru-paruku
dan aku terbakar karenanya.
Napasmu dan napasku,
bangkit dari rongga dada yang berbeda,
namun lebur dalam bara yang satu.
Barangkali cinta…
jika ujung jemariku mengantar pesan
yang menyebar ke seluruh sel kulitmu
dan engkau memahamiku seketika.
Kulitmu dan kulitku,
membalut dua tubuh yang berbeda,
namun berbagi bahasa yang serupa.
Barangkali cinta…
jika tatap matamu membuka pintu menuju jiwa
dan aku dapati rumah yang kucari.
Matamu dan mataku,
tersimpan dalam kelopak yang terpisah,
namun bertemu dalam setapak yang searah.
Barangkali cinta…
karena darahku, napasku, kulitku,
dan tatap mataku,
kehilangan semua makna dan gunanya
jika tak ada engkau di seberang sana.
Barangkali cinta…
karena darahmu, napasmu, kulitmu,
dan tatap matamu,
kehilangan semua perjalanan dan tujuan
jika tak ada aku di seberang sini.
Pastilah cinta…
yang punya cukup daya, hasrat, kelihaian,
kecerdasan, dan kebijaksanaan
untuk menghadirkan engkau, aku,
ruang, waktu,
dan menjembatani semuanya
demi memahami dirinya sendiri.
Rabu, 27 Maret 2013
Kamu....
Kamu berdiri di sudut sana dengan segelas air putih favoritmu. Aku tidak mengerti bagaimana kamu bisa sangat cinta pada air yang tidak berasa itu, air yang bahkan tidak memiliki warna. Air yang biasa - biasa aja. Seperti yang orang minum setiap hari. Tapi kamu bilang, partikel - partikel yang mengisi gelasmu itu sangat istimewa.
Aku hanya mengernyitkan dahi ketika kamu bercerita tentang segelas air putih di tanganmu itu. Kamu bilang, air putih itu sehat. Kamu bilang, air putih itu enak. Dan, setiap merk botol air mineral yang kamu minum memiliki rasa. Dan kamu sangat suka salah satu dari mereka, kamu bilang itu yang paling enak. Tapi buatku, air putih itu biasa saja, rasanya sama saja.
Kamu meneguknya perlahan - lahan, merasakan setiap partikel air yang menyentuh dinding kerongkonganmu. Ekspresi itu, aku bosan melihatnya. Apa kamu tidak bisa minum dengan wajar - wajar saja? Kamu menghayati setiap bulir air yang masuk ke tubuhmu. Pejaman matamu seolah merasakan kumpulan zat cair itu sedang memeluk erat tubuhmu. Dan, satu lagi yang aku benci dari itu, kamu terkadang lupa sedang berpijak di bumi yang sama denganku saat kamu meneguknya.
Waktu Tidak Mengenal Jarak!!!
Kamu tidak bisa lari ketika waktu menghampiri. Kamu hanya bisa terus berjalan bersama putaran detik yang terus berdetak. Kamu tidak bisa kembali ketika waktu telah bergulir jauh. Begitu pun aku. Aku terpaku bersama waktu. Bersama bayangan. Bersama kenangan.
Ingin aku mengejarmu. Namun kamu sudah terlalu jauh. Sangat jauh. Secepat cahaya pun, aku tak akan pernah bisa lagi menggapaimu. Hingga aku mengelilingi alam semesta pun, tetap tak bisa ku sentuh lembut kulitmu. Aku tetap tidak akan bisa mengubah apa yang sudah diubah waktu.
Angin yang menerpaku halus, membuat rasa dingin hinggap menembus lapisan kain yang menyelimuti tubuhku. Aku masih termenung di bawah langit, memandangi awan yang menggumpal. Terkadang, aku melihat skestsa sliuetmu di sana. Aku gemetar ketika menangkap bayangan itu.
Aku duduki rumput - rumput di bawah kakiku. Aku tatap ruang kosong di sampingku. Aku sentuh rumput - rumput di sana dengan telapak tanganku. Aku merasa ada butiran air yang berkilau karena pantulan cahaya matahari di ujung mataku. Tapi partikel cair itu tak serta merta jatuh halus di pipiku ketika aku merasa, kau ada di sana. Duduk manis di sampingku.
Batas itu ternyata sangat tipis. Lebih tipis dari sehelai rambut dibagi tujuh. Batas antara aku, dan kamu. Antara duniaku, dan duniamu sekarang. Namun, meski setipis itu, aku tetap tidak bisa menatapmu, tidak bisa menyentuhmu. Seandainya kamu tahu, aku sangat ingin memelukmu yang kini tidak memiliki raga untuk kau singgahi.
Merasakanmu, membuat aku tahu. Waktu adalah jarak yang tidak mengenal batas. Seperti aku dan kamu, kini. Waktu telah menelan ragamu menyatu dengan tanah tanpa memberikanku kesempatan untukku berucap.
"Maafkan aku."
Semoga angin mengirimkannya tepat di telingamu. Semoga kali ini, waktu tidak menelannya dan membawanya pergi.
Senyuman ini untuk mu, Hanya Untuk Mu!!!!!!
apa kabarmu hari ini mentari?
sudah berhari-hari, engkau tidak menampakkan senyumanmu
yang tampak hanyalah tangismu, yang sering sekali beberapa hari terakhir ini
ada apa denganmu mentari?
jika senyummu hilang, maka langit pun akan mendung
aku memerlukan senyummu, mentari
sinarmu menandakan engkau sedang tersenyum disana
dan jika engkau saat ini sedang tersenyum di pulau seberang
tolong sampaikan senyumku untuk dia yang ku sayangi
agar dia tahu, aku selalu tersenyum untuknya
Lelahhhh
Aku ingin berada dalam pelukmu tuk sejenak rasakan hangat tubuhmu.
Aku ingin menghirup wangi aroma tubuhmu tuk penuhi setiap rongga dadaku.
Aku ingin sejenak bersandar di dadamu dan merasakan gemuruhnya yang merasukiku.
Aku ingin mengecap tubuhmu yang membuatku candu dengan seluruh panca inderaku.
Rasa itu yang selalu kurindukan bila kau jauh dariku...
Aku ingin menyentuhmu, merasakan kulitmu yang bersentuhan dengan kulitku, merasakan setiap keindahan yang dianugerahkanNya untukmu.
Aku ingin sejenak merasakan kedamaian saat berada dalam pelukmu, melupakan semua hal yang membuatku menggila, dan menumpahkannya dalam rengkuhan kasihmu.
Ya, ijinkan aku tuk sejenak lelap dalam pelukmu dan menyingkirkan semua kegundahanku...
AKU...
Aku di sini...
tetap dengan sendiriku yang sunyi.
Mencoba menerawang jauh, mencari bayangmu yang kurindu.
Entah apa yang kurasa kini, semua tampak senyap...
kurasakan gamang pada tempatku berpijak.
Ku tak sanggup mendekat tapi juga tak ingin beranjak.
Ku tak ingin trus merindu tapi ku juga enggan tuk menghapus bayangmu.
Bagaikan berada di persimpangan jalan dan ku tak tau kemana harus melangkah.
Biarlah waktu yang kan hapuskan semua jejakmu.
Biarlah angin yang kan terbangkan semua bayangmu.
Ku tetap di sini...
tetap dengan sendiriku yang sunyi..
Melupakan Diriku Sendiri?!!!
Kau ingin aku melupakanmu?
Ah…mudah saja aku melupakanmu
Yang aku perlukan hanya melupakan untuk melihat langit
atau laut
Yang aku perlukan hanya melupakan impianku
dan belajar untuk sendiri
Aku tau aku akan melupakanmu
Yang aku perlukan hanya melupakan senyummu
Mata indahmu
Bibir manismu
Aku bisa melakukannya
Yang aku perlukan hanya memejamkan mata
tidak mengingat apapun
tidak mencinta
atau bahkan tidak hidup
Aku akan melupakan betapa berartinya dirimu dalam hidupku
Yang hanya kulakukan adalah…
melupakan diriku sendiri.
Ini Tak Akan Seberapa.
sulit sekali untuk bertemu
sulit sekali menggapainya
susah sekali untuk menunggu
susah sekali untuk meraihnya
apa ini yang ditunjukkan Allah
bahwa dia bukan jodoh ku??
bahwa bukan dia yang Engkau pilihkan untukku??
Ya Allah..
hati ini masih tertaut padanya
hati ini masih ingin bersamanya
mungkin pengorbanan ini belum ada apa-apanya
mungkin apa yang ku lakukan hanya awal dari semuanya
mungkin apa yang ku pikirkan tak seindah kenyataannya
semoga Ya Allah
apa yang akan ku korbankan
bisa membawa kebahagiaan
amiin
sulit sekali menggapainya
susah sekali untuk menunggu
susah sekali untuk meraihnya
apa ini yang ditunjukkan Allah
bahwa dia bukan jodoh ku??
bahwa bukan dia yang Engkau pilihkan untukku??
Ya Allah..
hati ini masih tertaut padanya
hati ini masih ingin bersamanya
mungkin pengorbanan ini belum ada apa-apanya
mungkin apa yang ku lakukan hanya awal dari semuanya
mungkin apa yang ku pikirkan tak seindah kenyataannya
semoga Ya Allah
apa yang akan ku korbankan
bisa membawa kebahagiaan
amiin
Selasa, 26 Maret 2013
Janji setangkai ilalang?
Munajat kita terucap disenja.
Tentang jemari yang bertaut, tentang janji;
yang lirih di ujung bibir hingga nanti.
Hingga ribuan senja datang dan pergi.
Kita menikahi jingga diujung hari, mendaras kata perlahan
“hingga maut memisahkan”
Lalu setangkai ilalang yang bahagia meminta diri,
disuntingnya serupa berlian; bunga rumput berwarna persis seperti langit.
Di jariku dengan khidmat kau lingkarkan.
Setangkai ilalang dan bunga rumput berwarna biru menjadi cincinku.
Dan kerudungku adalah angin-angin yang merapal doa, mengaminkan kita.
Munajat kita terucap di senja.
Tentang jemari yang bertaut, tentang janji;
menjadi ringkih serupa dunia dan senja terakhir kandas oleh nafas yang tak lagi bisa dihela.
01/04/2007
Sepi. Hening. Kosong. Hampa. Sebuah kata yang bersininom sama. Berulang-ulang kali ku hembuskan hanya untuk menggambarkan situasi yang ku rasakan, pada saat ini, di sini. Sama sekali berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Hari itu di sini, ketika bersama mu.
Masih terlihat jelas bayang-bayang mu menari-nari mengitari ruangan ini. Mondar-mandir dengan earphone terpasang di telinga. Kau tak mengiraukan ku yang berteriak marah, menyuruh mu diam dan tutup mulut. Kau bahkan tak menganggap kehadiran ku disitu.
Lalu aku melihat mu duduk manis, tersenyum puas pada sekerat roti mentega dan secangkir susu yang masih mengepulkan asap. Puas, sebab kau telah mengambil sebagian jatah sarapan pagi ku. Membuat ku merengut kesal sepanjang pagi itu.
Lalu ketika itu, kau menarik ku ke dekat jendela hanya untuk memaksa ku menyaksikan semburat mentari yang berwarna tembaga. Persis di samping ku, kau berdiri, tersenyum menawarkan sesuatu yang berbeda dari hari-hari terberat yang telah kita lewati bersama.
Bila aku tak melihat jelas ketulusan di mata itu, barangkali aku tak akan percaya, dan mengucapkan serapah seperti yang biasa kita lakukan. Tapi kali itu, aku malah mengejutkan diri ku sendiri dengan menyambut tawaran mu. Aneh. Sesuatu yang tak biasa terjadi.
Dan saat itu, kau tahu adalah hari terindah sepanjang hidup ku. Hari yang tak akan pernah bisa ku lupakan selamanya.
Lalu...tiba-tiba saja aku melihat mu di situ. Diam. Membeku. Lebih tepatnya terbujur kaku. Kau tak bergerak, bergeming. Bahkan ketika aku mengomel-ngomel pada mu. Tidak seperti biasanya, kau tidak menjawab. Kau tetap bungkam. Bahkan setelah aku menangis, hal terlarang yang selalu kau ingatkan pada ku.
"Jangan menangis" Kau bahkan tak mengucapkan itu dan mengusap lembut butiran yang menetes di pipi ku. Kau menutup mulut mu. Membiarkan ku berteriak sesuka ku. Kau tidak berkata-kata, bahkan untuk menjawab berjuta-juta rasa yang ku kirim kan. Tidak seperti biasa, telepati ku tidak berfungsi.
Kau terdiam selamanya. Meninggalkan ku dengan pertanyaan yang tak terjawab.
Lalu...bertahun-tahun terlewatkan dengan sepi. Merangkak lambat dalam hitungan jari ku. Bayangan itu tidak enyah begitu saja.
Beberapa hari lagi bertepatan dengan hari itu, aku kembali. Duduk sendiri dalam diam. Menggengam secangkir coklat susu yang masih mengepul panas. Di luar sana, gerimis turun dengan perlahan. Aku mendesah pelan. Melirik secangkir coklat yang tak berpenghuni di seberang ku. Aku membiarkan asapnya menari-nari, lalu dingin dan membeku. Tak seorang pun yang kan mengenggam gagangnya.Tidak ada diri mu lagi.
Aku manangis dalam hening yang tercipta. Tahun-tahun telah berlalu. Rambut ku sudah memutih. Kulit ku sudah mengerut. Mata ku sudah tak awas lagi.
Tapi bahkan sedetik pun, bau masa lalu tidak beranjak dari ruangan ini. Di situ ada kau dan aku. Sedang bercengkrama dengan umpatan. Sedang berebut saling mendahului. Sedang menyembunyikan rasa yang tercipta tiba-tiba. Nyaris tidak ada yang berubah. Bahkan dengan perasaan ku.
Tahun-tahun telah berlalu. Musim dan waktu telah berganti. Namun dihati ku, tidak satu musim pun beranjak. Disana hanya ada satu musim, yaitu musim kau dan aku. Musim ketika cinta kita bersemi.
Kau tahu, di sini selalu ada diri mu. Dan hanya diri mu.
It's Always been you...
Yang Utuh Saat Malam
Mengingatmu adalah kesunyian yang utuh...
Pernahkah kalian didekap sunyi abadi dalam peluk berkepanjangan??
terlewat jarak sejauh waktu yang jatuh
melepas sejuta kenangan serapuh gaduh
ranting pun gemertak patah ketika mengingatmu
mengguncang separuh jiwa yang kosong karena ngilu
ketika jejak langkah menyatukan separuh jiwa itu
lalu membumikan yang tak pernah dimengerti bersamamu
“maka perpisahan yang tercampur dalam irama kata-kata
semakin jauh kita lepaskan dari tubuh kesendirian”
dan detik-detik jam mengeluh lelah
setiap berputar melawan arah
melepas penat karena payah
menyatukan jarak yang tak pernah sudah
maka pergilah segala sumpah segala seranah
lihatlah, malam ini angin malas berhembus
udara yang turun begitu dingin menembus rusuk
merasuk lewat sebaris kata yang pernah kita susun bersama
saat malam gelap gulita
(kau dan aku membangun cinta lewat suara maya
dari makna dari gemuruh dalam dada
dan resah setiap senja
yang pernah kita pandang bersama)
di teras belakang kerik jangkrik terdengar sirik
memanggil bintang memanggil rembulan yang terusik
mungkin bisa disatukan dalam sebuah ikatan
tempat berlabuhnya sebatang malam setengah diam
dan berbaris menatap semua kerinduan yang demam
karena dendam paling dalam pada kesunyian
setiap hari, bahkan waktu yang terlewati
kau titipkan sebuah keterpurukan rasa sayang ini
yang pernah memberi warna-warni
pada awan siluet senja dan dawai mimpi
yang tercipta lewat sebatang ingatan sepi
(mungkin hanya cukup sebuah ketaksengajaan,
tapi memang harus diakui
semua yang terjadi hanya mampir
untuk sekedar memberi salam lalu pulang)
Mengingatmu adalah kesunyian yang utuh...
Pernahkah kalian didekap sunyi abadi dalam peluk berkepanjangan??
terlewat jarak sejauh waktu yang jatuh
melepas sejuta kenangan serapuh gaduh
ranting pun gemertak patah ketika mengingatmu
mengguncang separuh jiwa yang kosong karena ngilu
ketika jejak langkah menyatukan separuh jiwa itu
lalu membumikan yang tak pernah dimengerti bersamamu
“maka perpisahan yang tercampur dalam irama kata-kata
semakin jauh kita lepaskan dari tubuh kesendirian”
dan detik-detik jam mengeluh lelah
setiap berputar melawan arah
melepas penat karena payah
menyatukan jarak yang tak pernah sudah
maka pergilah segala sumpah segala seranah
lihatlah, malam ini angin malas berhembus
udara yang turun begitu dingin menembus rusuk
merasuk lewat sebaris kata yang pernah kita susun bersama
saat malam gelap gulita
(kau dan aku membangun cinta lewat suara maya
dari makna dari gemuruh dalam dada
dan resah setiap senja
yang pernah kita pandang bersama)
di teras belakang kerik jangkrik terdengar sirik
memanggil bintang memanggil rembulan yang terusik
mungkin bisa disatukan dalam sebuah ikatan
tempat berlabuhnya sebatang malam setengah diam
dan berbaris menatap semua kerinduan yang demam
karena dendam paling dalam pada kesunyian
setiap hari, bahkan waktu yang terlewati
kau titipkan sebuah keterpurukan rasa sayang ini
yang pernah memberi warna-warni
pada awan siluet senja dan dawai mimpi
yang tercipta lewat sebatang ingatan sepi
(mungkin hanya cukup sebuah ketaksengajaan,
tapi memang harus diakui
semua yang terjadi hanya mampir
untuk sekedar memberi salam lalu pulang)
Yang Utuh
Mengingatmu adalah kesunyian yang utuh...
Pernahkah kalian didekap sunyi abadi dalam peluk berkepanjangan??
terlewat jarak sejauh waktu yang jatuh
melepas sejuta kenangan serapuh gaduh
ranting pun gemertak patah ketika mengingatmu
mengguncang separuh jiwa yang kosong karena ngilu
ketika jejak langkah menyatukan separuh jiwa itu
lalu membumikan yang tak pernah dimengerti bersamamu
“maka perpisahan yang tercampur dalam irama kata-kata
semakin jauh kita lepaskan dari tubuh kesendirian”
dan detik-detik jam mengeluh lelah
setiap berputar melawan arah
melepas penat karena payah
menyatukan jarak yang tak pernah sudah
maka pergilah segala sumpah segala seranah
lihatlah, malam ini angin malas berhembus
udara yang turun begitu dingin menembus rusuk
merasuk lewat sebaris kata yang pernah kita susun bersama
saat malam gelap gulita
(kau dan aku membangun cinta lewat suara maya
dari makna dari gemuruh dalam dada
dan resah setiap senja
yang pernah kita pandang bersama)
di teras belakang kerik jangkrik terdengar sirik
memanggil bintang memanggil rembulan yang terusik
mungkin bisa disatukan dalam sebuah ikatan
tempat berlabuhnya sebatang malam setengah diam
dan berbaris menatap semua kerinduan yang demam
karena dendam paling dalam pada kesunyian
setiap hari, bahkan waktu yang terlewati
kau titipkan sebuah keterpurukan rasa sayang ini
yang pernah memberi warna-warni
pada awan siluet senja dan dawai mimpi
yang tercipta lewat sebatang ingatan sepi
(mungkin hanya cukup sebuah ketaksengajaan,
tapi memang harus diakui
semua yang terjadi hanya mampir
untuk sekedar memberi salam lalu pulang)
Clening Memory
Kemarin seseorang menanyakan tentang kamu denganku. Dan juga seorang yang lain. Mereka menanyakan kabar kamu.
Aku hanya menjawab tidak tahu. Karena aku memang tidak tahu kamu ada dimana sekarang dan bagaimana keadaan kamu.
Aku pikir aku sudah sanggup ketika tahu dan mendengar kabar kamu.
Tapi ternyata mendengar seseorang menyebutkan namamu pun masih sanggup membuat kepingan hati aku berdenyut, merasakan sakitnya sendiri.
Seven months and I still stuck here. I don’t know what happen with me. It’s weird.
Kamu yang menghilang dan tidak pernah menemui aku sejak kali terakhir kita bersama. Kamu yang mendadak berubah sejak malam kamu terakhir memeluk aku.
Kamu yang berhenti berkata denganku sejak terakhir kali kamu membisikkan kangen dan sayang kamu.
Ahh…sudahlah.
Aku pikir aku sudah menerima semuanya, tapi mungkin aku masih membutuhkan waktu yang lebih lama untuk membuat perasaan aku menjadi benar – benar netral ketika mendengar seseorang menyebutkan nama kamu.
Kamu yang menghilang dan tidak pernah menemui aku sejak kali terakhir kita bersama. Kamu yang mendadak berubah sejak malam kamu terakhir memeluk aku.
Kamu yang berhenti berkata denganku sejak terakhir kali kamu membisikkan kangen dan sayang kamu.
Ahh…sudahlah.
Aku pikir aku sudah menerima semuanya, tapi mungkin aku masih membutuhkan waktu yang lebih lama untuk membuat perasaan aku menjadi benar – benar netral ketika mendengar seseorang menyebutkan nama kamu.
Langganan:
Komentar (Atom)