Rabu, 27 Maret 2013

Kamu....

Kamu berdiri di sudut sana dengan segelas air putih favoritmu. Aku tidak mengerti bagaimana kamu bisa sangat cinta pada air yang tidak berasa itu, air yang bahkan tidak memiliki warna. Air yang biasa - biasa aja. Seperti yang orang minum setiap hari. Tapi kamu bilang, partikel - partikel yang mengisi gelasmu itu sangat istimewa. Aku hanya mengernyitkan dahi ketika kamu bercerita tentang segelas air putih di tanganmu itu. Kamu bilang, air putih itu sehat. Kamu bilang, air putih itu enak. Dan, setiap merk botol air mineral yang kamu minum memiliki rasa. Dan kamu sangat suka salah satu dari mereka, kamu bilang itu yang paling enak. Tapi buatku, air putih itu biasa saja, rasanya sama saja. Kamu meneguknya perlahan - lahan, merasakan setiap partikel air yang menyentuh dinding kerongkonganmu. Ekspresi itu, aku bosan melihatnya. Apa kamu tidak bisa minum dengan wajar - wajar saja? Kamu menghayati setiap bulir air yang masuk ke tubuhmu. Pejaman matamu seolah merasakan kumpulan zat cair itu sedang memeluk erat tubuhmu. Dan, satu lagi yang aku benci dari itu, kamu terkadang lupa sedang berpijak di bumi yang sama denganku saat kamu meneguknya.

Waktu Tidak Mengenal Jarak!!!

Kamu tidak bisa lari ketika waktu menghampiri. Kamu hanya bisa terus berjalan bersama putaran detik yang terus berdetak. Kamu tidak bisa kembali ketika waktu telah bergulir jauh. Begitu pun aku. Aku terpaku bersama waktu. Bersama bayangan. Bersama kenangan. Ingin aku mengejarmu. Namun kamu sudah terlalu jauh. Sangat jauh. Secepat cahaya pun, aku tak akan pernah bisa lagi menggapaimu. Hingga aku mengelilingi alam semesta pun, tetap tak bisa ku sentuh lembut kulitmu. Aku tetap tidak akan bisa mengubah apa yang sudah diubah waktu. Angin yang menerpaku halus, membuat rasa dingin hinggap menembus lapisan kain yang menyelimuti tubuhku. Aku masih termenung di bawah langit, memandangi awan yang menggumpal. Terkadang, aku melihat skestsa sliuetmu di sana. Aku gemetar ketika menangkap bayangan itu. Aku duduki rumput - rumput di bawah kakiku. Aku tatap ruang kosong di sampingku. Aku sentuh rumput - rumput di sana dengan telapak tanganku. Aku merasa ada butiran air yang berkilau karena pantulan cahaya matahari di ujung mataku. Tapi partikel cair itu tak serta merta jatuh halus di pipiku ketika aku merasa, kau ada di sana. Duduk manis di sampingku. Batas itu ternyata sangat tipis. Lebih tipis dari sehelai rambut dibagi tujuh. Batas antara aku, dan kamu. Antara duniaku, dan duniamu sekarang. Namun, meski setipis itu, aku tetap tidak bisa menatapmu, tidak bisa menyentuhmu. Seandainya kamu tahu, aku sangat ingin memelukmu yang kini tidak memiliki raga untuk kau singgahi. Merasakanmu, membuat aku tahu. Waktu adalah jarak yang tidak mengenal batas. Seperti aku dan kamu, kini. Waktu telah menelan ragamu menyatu dengan tanah tanpa memberikanku kesempatan untukku berucap. "Maafkan aku." Semoga angin mengirimkannya tepat di telingamu. Semoga kali ini, waktu tidak menelannya dan membawanya pergi.

Senyuman ini untuk mu, Hanya Untuk Mu!!!!!!

apa kabarmu hari ini mentari? sudah berhari-hari, engkau tidak menampakkan senyumanmu yang tampak hanyalah tangismu, yang sering sekali beberapa hari terakhir ini ada apa denganmu mentari? jika senyummu hilang, maka langit pun akan mendung aku memerlukan senyummu, mentari sinarmu menandakan engkau sedang tersenyum disana dan jika engkau saat ini sedang tersenyum di pulau seberang tolong sampaikan senyumku untuk dia yang ku sayangi agar dia tahu, aku selalu tersenyum untuknya

Lelahhhh

Aku ingin berada dalam pelukmu tuk sejenak rasakan hangat tubuhmu. Aku ingin menghirup wangi aroma tubuhmu tuk penuhi setiap rongga dadaku. Aku ingin sejenak bersandar di dadamu dan merasakan gemuruhnya yang merasukiku. Aku ingin mengecap tubuhmu yang membuatku candu dengan seluruh panca inderaku. Rasa itu yang selalu kurindukan bila kau jauh dariku... Aku ingin menyentuhmu, merasakan kulitmu yang bersentuhan dengan kulitku, merasakan setiap keindahan yang dianugerahkanNya untukmu. Aku ingin sejenak merasakan kedamaian saat berada dalam pelukmu, melupakan semua hal yang membuatku menggila, dan menumpahkannya dalam rengkuhan kasihmu. Ya, ijinkan aku tuk sejenak lelap dalam pelukmu dan menyingkirkan semua kegundahanku...

AKU...

Aku di sini... tetap dengan sendiriku yang sunyi. Mencoba menerawang jauh, mencari bayangmu yang kurindu. Entah apa yang kurasa kini, semua tampak senyap... kurasakan gamang pada tempatku berpijak. Ku tak sanggup mendekat tapi juga tak ingin beranjak. Ku tak ingin trus merindu tapi ku juga enggan tuk menghapus bayangmu. Bagaikan berada di persimpangan jalan dan ku tak tau kemana harus melangkah. Biarlah waktu yang kan hapuskan semua jejakmu. Biarlah angin yang kan terbangkan semua bayangmu. Ku tetap di sini... tetap dengan sendiriku yang sunyi..

Melupakan Diriku Sendiri?!!!

Kau ingin aku melupakanmu? Ah…mudah saja aku melupakanmu Yang aku perlukan hanya melupakan untuk melihat langit atau laut Yang aku perlukan hanya melupakan impianku dan belajar untuk sendiri Aku tau aku akan melupakanmu Yang aku perlukan hanya melupakan senyummu Mata indahmu Bibir manismu Aku bisa melakukannya Yang aku perlukan hanya memejamkan mata tidak mengingat apapun tidak mencinta atau bahkan tidak hidup Aku akan melupakan betapa berartinya dirimu dalam hidupku Yang hanya kulakukan adalah… melupakan diriku sendiri.

Ini Tak Akan Seberapa.

sulit sekali untuk bertemu
sulit sekali menggapainya
susah sekali untuk menunggu
susah sekali untuk meraihnya

apa ini yang ditunjukkan Allah
bahwa dia bukan jodoh ku??
bahwa bukan dia yang Engkau pilihkan untukku??
Ya Allah..

hati ini masih tertaut padanya
hati ini masih ingin bersamanya
mungkin pengorbanan ini belum ada apa-apanya
mungkin apa yang ku lakukan hanya awal dari semuanya
mungkin apa yang ku pikirkan tak seindah kenyataannya

semoga Ya Allah
apa yang akan ku korbankan
bisa membawa kebahagiaan
amiin