Rabu, 08 Agustus 2012
08/08/12
Bagaimana aku memulai, mendung menutupi pandangan akan pancaran diri
Siangku rasa gelap gulita,
pancaran diri hanya kerdip lilin yang menunggu semilir angin menerpa kemudian padam
dan aku menyampaikan keinginan hati, walau tinggal menunggu waktu, harus aku sampaikan.
“Sesekali ingin menyibak kelukaan yang telah lama mendera diri.
Sesekali ingin mengundang kebenaran akan diri untuk berbicara dan berdialog, sekarang.
Aku berhasrat belajar mengerti, memahami dan menyenangi diri.
Berbahagia rasa jauh dariku, rasa aku berlari menjauh dariku sebenar.
Dan aku kadang bimbang gelisah, sedu sedan, menangis kenangkan diri.
Dicela alam sekitar, diketawakan deretan pohon-pohon sekitar.
Dilecehkan waktu.
Angin menemparku dan menyadarkan aku tentang kehidupan, tapi itu hanya sesaat lalu aku kembali lagi.
Kemanakah energy besar ini akan membawaku, membimbingku ataukah menjerumuskan aku
Itulah senantiasa pertanyaanku.
Dimanakah energi ini tersimpan dan memberi kekuatan padaku untuk memadamkan aku, hidup dalam kematian diri
Aku berdiri padahal masih dalam mimpi.
‘Pertanyaan apa lagi yang harus aku ungkap ?’
‘ sebenar banyak, tapi sekali lagi selalu tertutupi’
Masih bias diri ini untuk lagi mengerti diri.
Kucoba !???
Aku tertelan waktu dalam hening yang sunyi....
sunyi yang mengekat.. rongga nafasku...
Sejenak aku termangu dalam ragu....
Haruskah... kuhentikan detik sang waktu..
detik demi detik yang terangkai demi cintaku padamu..
Kucoba bertahan dalam belenggu hening yang kian sunyi...
belenggu yang membuat tiap kata hilang dari syairku..
Belenggu yang merampas tiap puisiku...
Kucoba bertahan.. tanpa kata... tanpa rima dalam tiap suara hatiku
kucoba bertahan meski kematian kian erat mendekapku...
Kucoba bertahan meski nafas kian menjauh dariku...
Kucoba bertahan dipersimpangan...
Hingga harus kuakhiri cerita cinta ini...
Cerita cinta... yang selama ini membuat jantungku berdetakk...
Cerita cinta yang membuat rongga nafasku dipenuhi udara...
Cerita Cinta yang membuatku bertahan untuk hidup...
Ku akhiri semua....
Bukan demi diriku.....
Bukan demi Hidupku....
Apalagi demi harapanku....
Ku akhiri semua.......
Demi cintaku.....
Aku tak ingin.... langkahmu tersandung
atau bahkan engkau terjerebab... karena aku...
Ku akhiri semua.....
meski hangat menjauh dari tubuhku...
Bahkan darah berhenti mengalir di ragaku....
Tapi aku harus bertahan....
Meski sunyi akan menjadi nyanyian di tiap detikku..
Meski hampa menjadi hari-hariku...
Ku akhiri Cinta ini.......
Hanya karena aku yang teramat mencintaimu...
Ku akhiri cinta ini.....
Hingga Engkau akan selalu hidup.. meski kematian menjemputku...
Bersyukur Atas Pelangi
ketika membuka mata, benderang mengantarkan pada sosok sang mentari.
indah, meski kehilangan pelangi, kehilangan 1 warnanya saja, seperti kehilangan semuanya.
bukan...!!!! bukan hilang....
hanya berganti kostum untuk memperindah dunia dititian bola mata.
tetap takjub dengan kilauan mentari yang menghapus petang dan berdamai dengan rembulan...
sayup-sayup membesar haluan bola mata,
namun berusaha menikmati dan beradaptasi dengan keindahan yang lain.
rindu pelangi....
biar rindu tetap menikmati mentari....
dan rembulan
yang saling sapa menatap senyuman awan memutih sejuk
melenakan hati, coba berdamai pada rasa
Tuhan, pertemukanlah kembali dengan MEJIKUHIBINIU...
Agar kami kembali menari...
dalam syukur, menyulam asa dan bawa tawa keistana bahagia dg rahmatMu
Tuhan belum pandai rasa syukur ini membuncah atas pelangiMu
atas mentariMu
dan atas RembulanMu.
Belum berdiameter penuh rasa sabar yang terlukis malu-malu.
pada bayangan
kenyataan
dan harumnya perjuangan yang menjadikan hidup itu kehidupan
saat ini rindu pelangi
tak aka lekang dimakan waktu..
dan bumi berputar atas seruaMu...
melagukan irama syahdu yang tetap ditunggu
hingga akhir waktu....
Thanks Rabb
Cry...
Jika aku menangis
Bukan berarti aku adalah cengeng
Bukan pula berarti aku lemah
Tidak pun berarti aku kalah
Bila aku menangis
Aku hanya ingin sendiri
Melepas penat di hati
Yang takkan pernah terobati
Air mata bukanlah lambang kelemahan
Ataupun pertanda kekalahan
Karena dengan menangis aku mampu
Melepas semua resah di hatiku
Dan saat ini…
Aku hanya ingin menangis…
Tanpa Bintang
malam ku sepi tanpa satupun bintang menemani
bintang yang memancarkan cahaya indahnya,
kini tak akan lagi ada untuk ku pandangi indah kilauannya
dia telah pergi tuk menambah kesedihan hati..
bintang indah ku mungkinkah kau pergi bersama awan gelap itu,
untuk meninggalkan aku sendiri di malam ini
bintang indah ku walau terpisah jarak kau dan aku,
namun aku akan selalu menanti hingga kau bersama ku dengan bintang-bintang lain yang menghiasi langit dalam mimpi di tidur ku dan tidur mu
bintang indah hati ku sungguh aku mencintai diri mu.
Langganan:
Komentar (Atom)