Rabu, 23 Februari 2011

Mencoret Kertas Putih Saat Malam....

Malam itu udara terasa menusuk, hawa dingin yang kurasakan beberapa tahun yang lalu kembali menyerangku, entah kenapa perasaan akan adanya sesuatu yang buruk itu terulang. dibalik kaca jendela rumah aku menatap langit yang sedang menuju senja, saat itu ku merenung, teringat momen momen buruk beberapa tahun yang lalu, saat semuanya telah berakhir.

aku pun terdiam mengambil sebuah pulpen,yang kudapat gratis dari teman, dan secarik kertas putih polos dari meja belajar yang super berantakan, aku menulis sebuah puisi,tentang apa yang ku
kawatirkan, yang berhubungan dengan beberapa tahun lalu.

Ya, aku menulis puisi, mengapa? karena aku terbiasa mengungkapkan semua keluh kesah dan segalanya dengan kata-kata yang orang lain sulit mengerti, tapi sangat kupahami, karena aku suka semua menjadi misteri. Memang kelihatannya aneh seorang Wanita menulis puisi, tapi AKu bukankah Chairil Anwar adalah seorang pria, bukankah Taufiq Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono, WS Rendra semuany pria dan mereka sangat terkenal, bahkan beberap kita sudah mengenalnya mulai SD. Jadi ya aku suka berpuisi, walaupun gak logis, banyak perumpamaan aneh, tapi itulah puisi menurutku sastra indah karena ia begitu misterius.

Pulpen tersebut perlahan-lahan mengisi lembaran kertas kosong dengan harapan dan imajinasi akan


kegalauan hati ini. Sedikit dan perlahan kutulis dan kutulis, walau sesekali meneguk minuman jahe hangat, dan menatap langit-langit, mencari inspirasi.

Bait pertama kutulis dengan cukup lama karena ku butuh imajinasi, inilah bait bait pertama itu:

Malam panjang dalam kehidupan
ku menanti harapan dalam setiap langkah dan pengorbanan”
“aku terlahir dalam keadaan menangis,

aku terbiasa menangis sejak kecil

saat dulu aku, dan kalian pasti pernah menangis.

tak perlu dipungkiri manusia terlahir dalam keadaan menangis,

tapi kini ku heran dengan gumpalan-gumpalan disana,

bersorak sorak bagai awan hitam

mereka tak mau memungkiri kenyataan

manusia lumrah menangis.

dan menangislah seperti aku, seperti saat aku sedih,seperti saat kita bayi.

inilah aku penuh dengan tangisan dan air mata.

mereka tidak paham dengan semua ini walau aku terus menangis dan menangis, secuil harapan dan harapan melayang,

Sayang, aku memang lemah karena menangisi kepergianmu

aku lemah saat aku bukanlah harapan yang kau inginkan.

lemah saat butir butir kata darimu tentangnya.

tapi inilah aku mahluk menangis.....

Sayang adakah tetes air matamu untukku, seperti tetes air mataku untukmu.

adakah gumpalan rasa yang sama seperti rasaku ini.

adakah cinta saat perasaanmu sedang gelisah di malam ini.

Walau aku tahu, aku bukanlah dia, yang kau harapkan,tapi aku tetap ingin kau menjawab pertanyaanku

aku takut, aku lemah, hingga tetes air mata ini terus berjalan bagai air mancur.

dakah harapan disana, aku ingin kau. dan ini nyata

tapi ah ini hanya keegoisanku, aku hanya ingin melihat senyummu, walau ku menangis karenanya.

aneh , memang itulah aku, aku berharap menemukan senyummu dan meraihnya, walau bukan saat ini,

saat kau meraih tetes air mataku yang terkandung senyummu, itulah momen indah

momen manusia menangis yang sungguh diharapkan.

momen yang sangat kuharapkan.

setahun, dua tahun, satu dasawarsa, entah kapan momen itu datang dari mu.

saat semua berlalu, kuingin bertahan walau tangisan ku telah menenggelamkanku

dalam danau air mata, dalam harapan kosong yang selalu kunantikan.

inilah harapan, harapan si manusia menangis”

kututup kertas itu, kertas yang basah oleh air mataku. dan sebagai akhir ku beri judul “Aku si Manusia Menangis”.

aku perlahan mencari harapan dan ku ingin puisi ini tersebar sebagai ungkapan curhatanku, ku kunjungi blogku. Dan aku share pengalamanku menulis puisi ini kawan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar