sejak dari dulu kau sering ada buat saya
kamu sering merangkul dan menggendong ku
di setiap hariku kau selalu memperhatikan ku
semua itu merupakan pertama kali buat saya
tidak banyak waktu yang ada diantara kita
hanya di waktu petang kita bisa bersama
saya tidak pernah merasa kehilangan kasih sayangmu
ku tetap berharap masih dalam pelukanmu
tidak semua bisa saya dapatkan dari mu
namun kasih sayang dan kepedulian mu itu
sudah berarti banyak buat ku
hingga kini saya masih merindukanmu
sudah lama saya terus mencari dan mencari
tapi semua itu tak ada yang tahu kemana saya harus mencari
saya memang saya untuk tidak mempercayai mu
tapi kini penyesalan itu datang dalam pikiranku
ku sempat menghentikan semua ini
ku sempat melupakan semua ini
tak ingin saya lemah akan semua ini
tak ingin saya hancur karena semua ini
bersembunyi dari semua kepengecutan hati
diam tanpa nafas itu balasan buat diriku
tak sehela nafas mu bisa saya rasakan lagi
hanya ingatan manis bersamamu selalu ku rindu
kau berlari hanya untuk mencariku
kau menghilang hanya untuk melindungiku
kau pergi agar saya tak sakit hati
kau diam membisu pergi tak kembali
saya hanya ingin bertemu
saya hanya ingin memeluk mu
saya hanya ingin mendegar suaramu
saya hanya ingin mengucapkan maaf dan mengembalikan semua ini
kalau memeang ini adalah perpisahan yang tak bisa saya terima
izinkan saya mencari dan memiliki yang lain dalam hati ini
bertahun-tahun saya merasa kekosongan hati
berikan saya harapan untuk kau bisa kembali lagi
Rabu, 23 Februari 2011
Mencoret Kertas Putih Saat Malam....
Malam itu udara terasa menusuk, hawa dingin yang kurasakan beberapa tahun yang lalu kembali menyerangku, entah kenapa perasaan akan adanya sesuatu yang buruk itu terulang. dibalik kaca jendela rumah aku menatap langit yang sedang menuju senja, saat itu ku merenung, teringat momen momen buruk beberapa tahun yang lalu, saat semuanya telah berakhir.
aku pun terdiam mengambil sebuah pulpen,yang kudapat gratis dari teman, dan secarik kertas putih polos dari meja belajar yang super berantakan, aku menulis sebuah puisi,tentang apa yang ku
kawatirkan, yang berhubungan dengan beberapa tahun lalu.
Ya, aku menulis puisi, mengapa? karena aku terbiasa mengungkapkan semua keluh kesah dan segalanya dengan kata-kata yang orang lain sulit mengerti, tapi sangat kupahami, karena aku suka semua menjadi misteri. Memang kelihatannya aneh seorang Wanita menulis puisi, tapi AKu bukankah Chairil Anwar adalah seorang pria, bukankah Taufiq Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono, WS Rendra semuany pria dan mereka sangat terkenal, bahkan beberap kita sudah mengenalnya mulai SD. Jadi ya aku suka berpuisi, walaupun gak logis, banyak perumpamaan aneh, tapi itulah puisi menurutku sastra indah karena ia begitu misterius.
Pulpen tersebut perlahan-lahan mengisi lembaran kertas kosong dengan harapan dan imajinasi akan
kegalauan hati ini. Sedikit dan perlahan kutulis dan kutulis, walau sesekali meneguk minuman jahe hangat, dan menatap langit-langit, mencari inspirasi.
Bait pertama kutulis dengan cukup lama karena ku butuh imajinasi, inilah bait bait pertama itu:
Malam panjang dalam kehidupan
ku menanti harapan dalam setiap langkah dan pengorbanan”
“aku terlahir dalam keadaan menangis,
aku terbiasa menangis sejak kecil
saat dulu aku, dan kalian pasti pernah menangis.
tak perlu dipungkiri manusia terlahir dalam keadaan menangis,
tapi kini ku heran dengan gumpalan-gumpalan disana,
bersorak sorak bagai awan hitam
mereka tak mau memungkiri kenyataan
manusia lumrah menangis.
dan menangislah seperti aku, seperti saat aku sedih,seperti saat kita bayi.
inilah aku penuh dengan tangisan dan air mata.
mereka tidak paham dengan semua ini walau aku terus menangis dan menangis, secuil harapan dan harapan melayang,
Sayang, aku memang lemah karena menangisi kepergianmu
aku lemah saat aku bukanlah harapan yang kau inginkan.
lemah saat butir butir kata darimu tentangnya.
tapi inilah aku mahluk menangis.....
Sayang adakah tetes air matamu untukku, seperti tetes air mataku untukmu.
adakah gumpalan rasa yang sama seperti rasaku ini.
adakah cinta saat perasaanmu sedang gelisah di malam ini.
Walau aku tahu, aku bukanlah dia, yang kau harapkan,tapi aku tetap ingin kau menjawab pertanyaanku
aku takut, aku lemah, hingga tetes air mata ini terus berjalan bagai air mancur.
dakah harapan disana, aku ingin kau. dan ini nyata
tapi ah ini hanya keegoisanku, aku hanya ingin melihat senyummu, walau ku menangis karenanya.
aneh , memang itulah aku, aku berharap menemukan senyummu dan meraihnya, walau bukan saat ini,
saat kau meraih tetes air mataku yang terkandung senyummu, itulah momen indah
momen manusia menangis yang sungguh diharapkan.
momen yang sangat kuharapkan.
setahun, dua tahun, satu dasawarsa, entah kapan momen itu datang dari mu.
saat semua berlalu, kuingin bertahan walau tangisan ku telah menenggelamkanku
dalam danau air mata, dalam harapan kosong yang selalu kunantikan.
inilah harapan, harapan si manusia menangis”
kututup kertas itu, kertas yang basah oleh air mataku. dan sebagai akhir ku beri judul “Aku si Manusia Menangis”.
aku perlahan mencari harapan dan ku ingin puisi ini tersebar sebagai ungkapan curhatanku, ku kunjungi blogku. Dan aku share pengalamanku menulis puisi ini kawan.
aku pun terdiam mengambil sebuah pulpen,yang kudapat gratis dari teman, dan secarik kertas putih polos dari meja belajar yang super berantakan, aku menulis sebuah puisi,tentang apa yang ku
kawatirkan, yang berhubungan dengan beberapa tahun lalu.
Ya, aku menulis puisi, mengapa? karena aku terbiasa mengungkapkan semua keluh kesah dan segalanya dengan kata-kata yang orang lain sulit mengerti, tapi sangat kupahami, karena aku suka semua menjadi misteri. Memang kelihatannya aneh seorang Wanita menulis puisi, tapi AKu bukankah Chairil Anwar adalah seorang pria, bukankah Taufiq Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono, WS Rendra semuany pria dan mereka sangat terkenal, bahkan beberap kita sudah mengenalnya mulai SD. Jadi ya aku suka berpuisi, walaupun gak logis, banyak perumpamaan aneh, tapi itulah puisi menurutku sastra indah karena ia begitu misterius.
Pulpen tersebut perlahan-lahan mengisi lembaran kertas kosong dengan harapan dan imajinasi akan
kegalauan hati ini. Sedikit dan perlahan kutulis dan kutulis, walau sesekali meneguk minuman jahe hangat, dan menatap langit-langit, mencari inspirasi.
Bait pertama kutulis dengan cukup lama karena ku butuh imajinasi, inilah bait bait pertama itu:
Malam panjang dalam kehidupan
ku menanti harapan dalam setiap langkah dan pengorbanan”
“aku terlahir dalam keadaan menangis,
aku terbiasa menangis sejak kecil
saat dulu aku, dan kalian pasti pernah menangis.
tak perlu dipungkiri manusia terlahir dalam keadaan menangis,
tapi kini ku heran dengan gumpalan-gumpalan disana,
bersorak sorak bagai awan hitam
mereka tak mau memungkiri kenyataan
manusia lumrah menangis.
dan menangislah seperti aku, seperti saat aku sedih,seperti saat kita bayi.
inilah aku penuh dengan tangisan dan air mata.
mereka tidak paham dengan semua ini walau aku terus menangis dan menangis, secuil harapan dan harapan melayang,
Sayang, aku memang lemah karena menangisi kepergianmu
aku lemah saat aku bukanlah harapan yang kau inginkan.
lemah saat butir butir kata darimu tentangnya.
tapi inilah aku mahluk menangis.....
Sayang adakah tetes air matamu untukku, seperti tetes air mataku untukmu.
adakah gumpalan rasa yang sama seperti rasaku ini.
adakah cinta saat perasaanmu sedang gelisah di malam ini.
Walau aku tahu, aku bukanlah dia, yang kau harapkan,tapi aku tetap ingin kau menjawab pertanyaanku
aku takut, aku lemah, hingga tetes air mata ini terus berjalan bagai air mancur.
dakah harapan disana, aku ingin kau. dan ini nyata
tapi ah ini hanya keegoisanku, aku hanya ingin melihat senyummu, walau ku menangis karenanya.
aneh , memang itulah aku, aku berharap menemukan senyummu dan meraihnya, walau bukan saat ini,
saat kau meraih tetes air mataku yang terkandung senyummu, itulah momen indah
momen manusia menangis yang sungguh diharapkan.
momen yang sangat kuharapkan.
setahun, dua tahun, satu dasawarsa, entah kapan momen itu datang dari mu.
saat semua berlalu, kuingin bertahan walau tangisan ku telah menenggelamkanku
dalam danau air mata, dalam harapan kosong yang selalu kunantikan.
inilah harapan, harapan si manusia menangis”
kututup kertas itu, kertas yang basah oleh air mataku. dan sebagai akhir ku beri judul “Aku si Manusia Menangis”.
aku perlahan mencari harapan dan ku ingin puisi ini tersebar sebagai ungkapan curhatanku, ku kunjungi blogku. Dan aku share pengalamanku menulis puisi ini kawan.
Kisah Ku
Ini Hanya Kisahku... Tentang Kamu, Dan Letihku....
Senja dan percakapan kita, kenangan lama yang telah berserakan di beranda maya. Saat aku tergopoh-gopoh mengikuti langkahmu, memintamu berlahan sejenak dan menungguku, kmu tetap bergeming. Dan akhirnya kita harus mengakhiri semuanya bahkan sebelum ini semua dimulai....
B : Kenapa kamu memilih bersamaku?
A : Mencintaimu bukan sebuah pilihan, ketika kamu masuk ke dalam kahidupanku, aku sadar aku gak mau kehilangan kamu...
B : Kenapa harus aku?
A : Aku juga gak ngerti B,... Kenapa juga harus aku?
A : Kenapa kita merasa nyaman satu dengan yg lain?
B : Hmmm....
B : Aku bukan kekasih yang baik...
A : Dan mungkin aku juga tidak cukup baik...
B : Maksudku, aku selalu terlibat dengan beberapa perempuan...
A : I know....
B : So...?
A : Apa yg kurasakan masih tetap gak berubah
A : Memang apa yang kamu harapkan akan kulakukan?
B : Dari awal bukannya pernah ku katakan padamu, mengenalku kau hanya akan menemui kemalangan, terlibat denganku kamu hanya akan tersakiti...
A : Anggaplah aku keras kepala...
A : Dan bukannya itu resiko yg harus diambil kan?
A : Aku mencintaimu saat kau membuatku tersenyum dan bahagia. dan aku juga tetap mencintaimu saat kau membuat aku terluka... Mendampingimu dalam pencarianmu... Bukankan itu satu paket?
B : Ya... bila kamu memilih untuk terus jalan denganku, seharusnya kmu mengerti, Aku tidak sedang mencari sesuatu... aku hanya menikmati apa yang ada di depanku...
A : hmmm.... Aku tak bisa menyalahkanmu untuk hal itu. Karena bagaimanapun aku turut andil disana.
B : Kamu terlalu naïf...
A : Hehehe... setidaknya aku tidak munafik dengan perasaanku
B : Hmmm...
B : Baiklah...apa kita masih akan berjalan bersama?
A : Kmu sendiri, apa kmu mau jalan denganku?
B : Kmu sanggup jalan denganku?
A : Hatiku belum mengibarkan bendera putih
A : B... kamu mencintaiku?
B : ................Aku tak akan kemana-mana.............
Ahhh... tapi tetap saja kau berlalu tanpa menungguku... Ternyata pelayaranmu tak pernah berlabuh di dermagaku... padahal telah kutabur remah-remah rindu sebagai petunjuk jalan memandumu. Kini dermagaku karam dilapukan waktu, tak juga bersanding dengan perahu...
Ini hanya kisahku... tentang kamu, dan letihku....
Senja dan percakapan kita, kenangan lama yang telah berserakan di beranda maya. Saat aku tergopoh-gopoh mengikuti langkahmu, memintamu berlahan sejenak dan menungguku, kmu tetap bergeming. Dan akhirnya kita harus mengakhiri semuanya bahkan sebelum ini semua dimulai....
B : Kenapa kamu memilih bersamaku?
A : Mencintaimu bukan sebuah pilihan, ketika kamu masuk ke dalam kahidupanku, aku sadar aku gak mau kehilangan kamu...
B : Kenapa harus aku?
A : Aku juga gak ngerti B,... Kenapa juga harus aku?
A : Kenapa kita merasa nyaman satu dengan yg lain?
B : Hmmm....
B : Aku bukan kekasih yang baik...
A : Dan mungkin aku juga tidak cukup baik...
B : Maksudku, aku selalu terlibat dengan beberapa perempuan...
A : I know....
B : So...?
A : Apa yg kurasakan masih tetap gak berubah
A : Memang apa yang kamu harapkan akan kulakukan?
B : Dari awal bukannya pernah ku katakan padamu, mengenalku kau hanya akan menemui kemalangan, terlibat denganku kamu hanya akan tersakiti...
A : Anggaplah aku keras kepala...
A : Dan bukannya itu resiko yg harus diambil kan?
A : Aku mencintaimu saat kau membuatku tersenyum dan bahagia. dan aku juga tetap mencintaimu saat kau membuat aku terluka... Mendampingimu dalam pencarianmu... Bukankan itu satu paket?
B : Ya... bila kamu memilih untuk terus jalan denganku, seharusnya kmu mengerti, Aku tidak sedang mencari sesuatu... aku hanya menikmati apa yang ada di depanku...
A : hmmm.... Aku tak bisa menyalahkanmu untuk hal itu. Karena bagaimanapun aku turut andil disana.
B : Kamu terlalu naïf...
A : Hehehe... setidaknya aku tidak munafik dengan perasaanku
B : Hmmm...
B : Baiklah...apa kita masih akan berjalan bersama?
A : Kmu sendiri, apa kmu mau jalan denganku?
B : Kmu sanggup jalan denganku?
A : Hatiku belum mengibarkan bendera putih
A : B... kamu mencintaiku?
B : ................Aku tak akan kemana-mana.............
Ahhh... tapi tetap saja kau berlalu tanpa menungguku... Ternyata pelayaranmu tak pernah berlabuh di dermagaku... padahal telah kutabur remah-remah rindu sebagai petunjuk jalan memandumu. Kini dermagaku karam dilapukan waktu, tak juga bersanding dengan perahu...
Ini hanya kisahku... tentang kamu, dan letihku....
Langganan:
Komentar (Atom)


