Rabu, 12 Juni 2013

Pandangan Sejenak

Mari bicara sejenak santai dan mulai ngobrol tentang hidup melalui secangkir kopi. Menikmati secangkir kopi panas yang baru saja di seduh di sore yang hujan itu bagaikan mencoba menyelami sisi lain keindahan dari kehidupan ini. Masih mengepul dengan buih-buih di permukaan, terpeluk rapi oleh cangkir berwarna putih keabu-abuan, tersaji menggoda di atas meja, hanya sejengkal dari tangan kanan yang sibuk dengan mouse komputer atau laptop. menunggu saat tepat mencium keindahan yang hadir dari ujung cangkir itu. Keindahan akan kerinduan yang terkemas pada secangkir kopi, disaat duduk-duduk santai sambil ditemani membaca buku yang ringan dengan kening berkerut & mata yang berbinar-binar

Senandung suara

Dikala gemerintik suara hujan, ceritakan padaku sekali lagi semua kisah yang ku lewatkan. Tentang manisnya setiap kata dan juga harumnya guratan makna. Ketika langit membentang sempurna dan mengaburkan batas khayal juga kenyataan. Biarkanlah petir-petir itu teriak dan hujan semakin menyentak dalam kecemburuan. Lalu terbukalah semua mata akan sebuah rasa. Akan kutampung hujan ini untuk membasuh setiap lukamu. Lalu kita senandungkan lagu tentang haru, juga dosa-dosa yang teredam di dinding-dinding langit Tentang debur ombak yang menampar-nampar pantai, tentang impian dan juga angan. Lalu kita bersulang untuk kehidupan. Dan saat menjelang, aku akan menghilang dijemput terang.

Siang yg bermanfaat

Di suatu siang yang cerah, tepatnya ketika jarum jam menunjukkan pukul 12. Saya sengaja absen dari makan siang bersama teman-teman kantor dan bergegas meluncur dipanasnya aspal untuk mencari tukang kunci. Tidak butuh waktu lama, hanya sekitar 5 menit saya mengendarai motor dengan kecepatan biasa Mata dan kepala saya yang sebelumnya celingak-celinguk langsung konek dengan lapak lusuh beratapkan spanduk bekas, ukuran seadanya dan sebuah papan reklame dari triplek lapuk yang bertuliskan ¨AHLI KUNCI¨. Saya yang masih belum yakin mencoba memastikan, kali ini dari jarak cukup dekat dan pandangan yang sedikit berat, saya berhenti tepat di depan lapak. Ya, kali ini lengkap! Mesin pembuat kunci yang kelihatan berat tanpa karat pun terlihat. Namun hanya satu yang kurang, dimanakah si tukang kunci? Dengan yakin saya pun bertanya dengan ibu penjaga warung gerobak yang bersebelahan dengan lapak tukang kunci. ¨Tukang kuncinya kemana, bu?¨, tanya saya. ¨Oh, lagi shalat kayaknya dek. Ditunggu aja.¨ jawab ibu penjaga warung., saya pun menunggu. Sesekali pandangan saya tertuju pada lapak lusuh dan mesin pembuat kunci tanpa merk yang terlihat antik. Saya pun semakin penasaran dengan mesin tersebut. Ada dua buah roda besi bergerigi seperti gergaji mesin. Entah fungsinya sebagai apa? Belum sempat rasa penasaran terjawab dan tersadar jarak saya ke mesin itu semakin dekat, Si tukang kunci datang dengan wajah sedikit berkeringat. Si tukang kunci pun bertanya kepada saya seiring deru napasnya yang berat, mungkin dia habis berlari tadi, ¨Bikin kunci, dek?¨ Saya pun menjawab, ¨Iya, pak!¨ sambil merogoh kantong berusaha mengambil kunci rumah yang mau saya duplikasikan. ¨Satunya berapa pak?¨ Saya pun bertanya. ¨Tujuh rebu aja, dek.¨ Jawab si tukang kunci. Lalu si tukang kunci pun melakukan keahliannya. Memperhatikan kontur bentuk kunci secara detail, sesekali dari jarak dekat dengan kening berkerut-kerut. Sambil memperhatikan si tukang kunci, beberapa kali saya mengalihkan pandangan ke arah jalan raya dengan segala kesibukannya, ramai sekali. Lalu lalang kedaraan dan deru mesin yang bersautan dengan bunyi klakson merupakan pemandangan rutin dan biasa bagi si tukang kunci. Dengan kaos kusut berbalut celana cingkrang satu jengkal dibawah lutut, si tukang kunci sibuk mengukur setiap garis sisi kunci yang saya berikan. melupakan sejenak makan siang yang terlewatkan. Saat itu pula datanglah anak kecil, dengan tas slempang coklat sedikit agak berat menghampiri si tukang kunci. Anak itu mencium tangan dan mengucapkan salam kepada si tukang kunci, jelas menjawab bahwa tukang kunci itu adalah bapaknya. Sadar saya perhatikan, anak itu pun membalas dengan tatapan lalu pergi bergegas tanpa kesan tanpa pesan. Perlahan pikiran saya melayang dan menyeberang ke sisi kehidupan si tukang kunci yang memainkan perannya sebagai sebuah kunci. Kunci kehidupan bagi keluarganya, kunci pintu rizki bagi anak dan istrinya. Menafkahi keluarganya dengan mengikis setiap keping batang kunci. Entah berapa penghasilan yang dia dapat setiap hari? Mungkin satu, dua atau empat batang kunci. Atau bahkan mungkin tidak sama sekali? Toh tidak setiap hari orang datang membuat kunci. Saya pun berpikir apakah dia bahagia menjadi seorang tukang kunci? Apakah penghasilannya sebagai tukang kunci cukup untuk keluarganya? Apakah memang sudah cita-citanya menjadi seorang tukang kunci? Atau ada yang lain? Saat pikiran saya mulai ditumbuhi berbagai pertanyaan, si tukang kunci pun selesai dengan perkerjaannya sambil menyerahkan kunci yang sudah dibuatnya. Setelah menyerahkan uang lembaran pecahan seribuan dan dua ribuan untuk si tukang kunci, saya lantas beranjak. Saya pacu sepeda motor dengan masih menyisakan kesan tentang balada si tukang kunci. Seiring laju putaran roda, saya pun mencoba menarik kesimpulan sendiri. Terlepas dari predikatnya sebagai tukang kunci, dia adalah bagian dari segelintir orang yang mencoba mencari kehidupan, sama seperti saya. Mungkin setelah ini saya akan mencoba untuk lebih menghargai kehidupan ini. Karena kunci kebahagiaan itu ada pada diri kita sendiri dengan senantiasa mengucap syukur atas nikmat yang diberi.