Kamis, 28 Maret 2013
Mimpi 2008?!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Beberapa waktu lalu kita sempat membahas tentang pernikahan. Awalnya membahas tentang keharusanku sebagai pribadi untuk menikah karena tinggal di lingkungan masyarakat penuh 'perhatian' yang akan langsung merenyitkan dahi jika aku bilang aku tidak akan menikah.. dengan laki-laki tentunya. Lalu aku meyakinkanmu bahwa aku memang tidak akan menikah apapun alasannya. Di hari yang sama kamu memintaku untuk menikah dengan mu, meski lewat bbm jujur saat itu aku terkejut. Kamu ingin menikah dengan ku secara islam, awalnya aku terbengong-bengong baca bbm kamu. Dan akhirny aq menangis.. terharu.. ya saat itu aku merasa bahagia sekali.
Pernikahan adalah sebuah mimpi yang sudah lama sekali aq kubur. Karena dulu sekali aq pernah berdiskusi dengan kamu tentang menikah di luar negeri suatu saat nanti dan kamu langsung menolaknya. Dari hari itu aku berfikir tak perlu legalitas yang penting kamu menikahi hatiku dan setia padaku selamanya. cukup.
Sampai hari ini pembicaraan tentang pernikahan itu sudah terlupakan, kadang saat ku ungkit pun kamu hanya menjawab "mau nabung dulu" tanpa antusisme lagi.. hahaha.. yaaahh begitulah kamu.. terkadang kamu bisa sangat antusias terhadap hubungan kita.. tapi beberapa menit kemudian semua bisa berubah..
Tapi, sampai hari ini aku masih memikirkan tentang pernikahan itu.
memikirkan tentang bahagianya jika semua itu terwujud...
Biarlah pernikahan itu hanya jadi mimpi disudut fikiranku.. yang mungkin akan terwujud suatu saat nanti.. atau mungkin hanya akan tertumpuk dibawah mimpi-mimpi yang lain..:). yang pasti aku tidak akan pergi darimu untuk menikah dengan orang lain.
Terdiam...
Aku tak tau harus bilang apa...
Semua perasaan berkecamuk di benakku..
Mual menyesak dikerongkonganku, tapi lidahku kelu...semua hanya bisa keluar melewati pembuluh air mataku..mengacuhkan bibirku yang masih saja bungkam...
Aku si gadis sombong, yang mampu menaklukan keegoanmu akan wanita..
Tapi kini aku lemah..demi ketidak mampuanku..aku harus diam..
Ya..aku mengharuskan diriku untuk diam...
Aku si gadis kuat yang pandai memaki, menyiksamu dengan kata-kata...
Tapi kini aku lemah...demi ketiadaanku..aku harus diam...
Aku menangis dalam diam...
Entah ini apa..cobaan..godaan..perjuangan...atau ketidak tauan manusia lain akan etika..
Aku tak tau..dan tak punya kemampuan untuk mencari tau..
Aku hanya bisa berharap..
Seperti katamu..
Aku adalah wanitamu...satu-satunya dan selamanya..
**ketika manusia ada di satu titik nadir kehidupan dan mencoba bangkit dan melawan rasa sesak...
Perjuangan ini..mudah2an menjadi titik balik yang positif..dengan kamu masih slalu setia di sampingku...Amiiin3x..
Itu Saja Sudah Cukupppp....
Banyak sekali orang diluar sana yang bilang aku orang yang manja... aku orang yang menyebalkan.. aku orang yang jutek.. aku keras kepala... yaaa itu adalah aku.. bangga?? tidak sama sekali tidak.. aku sudah berusaha merubah image itu selama bertahun-tahun tapi susah.. sangat susah..
Rasa optimis muncul ketika kamu hadir di hidupku..memberi warna baru..memberi pola hidup baru.. aku si manja berubah menjadi dewasa karena kamu lebih manja.. aku yang keras kepala menjadi lebih lunak karna keegoisan kamu yang terkadang tak bisa kompromi.. aku yang jutek menjadi mudah tertawa karna ulah2 mu yang menggemaskan..
Lalu kamu menganggapku sebagai si sempurna.. baik hati dan pengertian..kamu menganggap aku pantas dipertahankan.. aku pantas dicintai..aku pantas disayang..
Aku kemudian berfikir, apakah aku sudah berubah..lebih dewasa..lebih baik..lebih ramah??? ternyata tidak.. semua masih sama..aku masih orang yang keras,, masih orang yang galak.. masih orang yang jutek.. di depan orang lain.. ya..
ternyata aku baru menyadari.. aku hanya berubah untuk kamu.. hanya kamu yang bisa melihat sisi baik dari diriku.. karena hanya kamu yang tulus.. karena hanya kamu yang slalu mengerti kekuranganku dan mensyukuri kelebihanku.. karena kamu makhluk sempurna yang diciptakan Tuhan untuk ku.. untuk membuatku menjadi sempurna..untukmu..
Tak lagi terlalu ku pusingkan orang-orang yang menganggapku gadis manja, galak, keras,,, dan lainnya..
karena yang terpenting aku tidak begitu bagimu... itu saja cukup..
Aku Di Sini.
panggil aku rembulan...karena aku tak pernah bisa bersinar tanpa mu matahariku...
panggil aku rembulan...karena saat malam aku butuh hangat mu matahari ku...
panggil aku rembulan karena saat pagi datang aku setia menemanimu meski dibalik awan...
maka panggil aku rembulan...
aku rembulan yang nakal...diam2 menculik matahari membawanya keperaduanku hingga langit merona senja..
aku rembulan yang merajuk...membiarkan sinar mu terbias sabit dan membiarkan sebagian kegelapan..
aku rembulan yang riang...menjadi purnama dan membuat para bintang berkedip melihatnya...
aku adalah sang rembulan...
ada satu hal yang tak terucap dari kebisuan rembulan...
betapa ia berterimakasih pada mentari yang tak pernah lelah memberikan sinarnya dan menghangatkan rembulan...
betapa ia ingin slalu bersama mentari meski harus menunggu dibalik awan...
betapa ia mencintai mentari meski tak ada yang tau bahwa bulan dan mentari saling mencuri hati...
matahari ku terimakasih telah mencintai dan melindungiku...
aku akan slalu disini..ditempat yang sama...disamping mu...
tak perlu dunia tau...
karena yang mereka tau matahari dan bulan tak pernah bertemu..
Ada seorang perempuan yang bertanya kepada kekasihnya ketika mereka sedang berdua. Beginilah percakapan mereka :
Perempuan : “Jika seandainya aku terjatuh dari atas gedung, apa yang akan kamu lakukan?”
Laki – laki : “Aku siap akan menangkap kamu dibawah”
Perempuan : “Hmmm, kalau seandainya aku jatuh?”
Laki – laki : “Aku akan menopang kamu dan ngobatin kaki kamu.”
Akhirnya mereka berdua-pun tertawa karena merasa malu – malu kucing dengan pertanyaan dan jawabannya masing – masing tadi. Maklumlah anak muda, hehehe.
Akhirnya, sang perempuan iseng, iya bertanya begini kepadanya pacarnya
Perempuan : “Oke deh. Sekarang, kalau seandainya aku dan mamamu tenggelam di laut, siapa yang akan kamu tolong? Kamu cuman punya satu kesempatan”
Sang laki – laki terdiam bingung. Namun akhirnya, ia menjawab dengan tegas dan yakin.
Laki – laki : “Aku akan menolong mamaku dan membawanya keluar dari air. Namun setelah itu, aku akan terjun kembali kedalam air, dan menuju takdir bersamamu. Mati bersamamu dan hidup bersamamu.
Memang aku tidak sekuat Superman yang bisa mengangkut 2 orang dalam genggamanku, tapi aku akan berusaha. Aku tidak bisa membiarkan 2 orang yang aku cintai pergi.
Jadi aku akan selamatkan mamaku, dan mati atau hidup bersamamu. Itulah pilihanku”
Hening Malam...
Keheningan malam ramaikan suasana hati
Membaur menjadi satu kesepian,
Menanti akan kehadiran,
Yang tak pernah memasti
Entah karya agung apa yang kau cipta,
Hingga rasa seakan terus mencarimu,
Menantimu tanpa pernah berharap
Namun memohon agar kau datang,
Menjadi doa utama dalam sujud itu,
Bayang bintang menjadi penerang,
Ketika keyakinan mulai gelap,
Melihat bingkai angan yang kau buat,
Menjadi batas akan itu..
Pembatas,
Akan mimpiku untukmu..
Mungkin?!!!!
Barangkali cinta…
jika darahku mendesirkan gelombang
yang tertangkap oleh darahmu
dan engkau beriak karenanya.
Darahku dan darahmu,
terkunci dalam nadi yang berbeda,
namun berpadu dalam badai yang sama.
Barangkali cinta…
jika napasmu merambatkan api
yang menjalar ke paru-paruku
dan aku terbakar karenanya.
Napasmu dan napasku,
bangkit dari rongga dada yang berbeda,
namun lebur dalam bara yang satu.
Barangkali cinta…
jika ujung jemariku mengantar pesan
yang menyebar ke seluruh sel kulitmu
dan engkau memahamiku seketika.
Kulitmu dan kulitku,
membalut dua tubuh yang berbeda,
namun berbagi bahasa yang serupa.
Barangkali cinta…
jika tatap matamu membuka pintu menuju jiwa
dan aku dapati rumah yang kucari.
Matamu dan mataku,
tersimpan dalam kelopak yang terpisah,
namun bertemu dalam setapak yang searah.
Barangkali cinta…
karena darahku, napasku, kulitku,
dan tatap mataku,
kehilangan semua makna dan gunanya
jika tak ada engkau di seberang sana.
Barangkali cinta…
karena darahmu, napasmu, kulitmu,
dan tatap matamu,
kehilangan semua perjalanan dan tujuan
jika tak ada aku di seberang sini.
Pastilah cinta…
yang punya cukup daya, hasrat, kelihaian,
kecerdasan, dan kebijaksanaan
untuk menghadirkan engkau, aku,
ruang, waktu,
dan menjembatani semuanya
demi memahami dirinya sendiri.
Rabu, 27 Maret 2013
Kamu....
Kamu berdiri di sudut sana dengan segelas air putih favoritmu. Aku tidak mengerti bagaimana kamu bisa sangat cinta pada air yang tidak berasa itu, air yang bahkan tidak memiliki warna. Air yang biasa - biasa aja. Seperti yang orang minum setiap hari. Tapi kamu bilang, partikel - partikel yang mengisi gelasmu itu sangat istimewa.
Aku hanya mengernyitkan dahi ketika kamu bercerita tentang segelas air putih di tanganmu itu. Kamu bilang, air putih itu sehat. Kamu bilang, air putih itu enak. Dan, setiap merk botol air mineral yang kamu minum memiliki rasa. Dan kamu sangat suka salah satu dari mereka, kamu bilang itu yang paling enak. Tapi buatku, air putih itu biasa saja, rasanya sama saja.
Kamu meneguknya perlahan - lahan, merasakan setiap partikel air yang menyentuh dinding kerongkonganmu. Ekspresi itu, aku bosan melihatnya. Apa kamu tidak bisa minum dengan wajar - wajar saja? Kamu menghayati setiap bulir air yang masuk ke tubuhmu. Pejaman matamu seolah merasakan kumpulan zat cair itu sedang memeluk erat tubuhmu. Dan, satu lagi yang aku benci dari itu, kamu terkadang lupa sedang berpijak di bumi yang sama denganku saat kamu meneguknya.
Waktu Tidak Mengenal Jarak!!!
Kamu tidak bisa lari ketika waktu menghampiri. Kamu hanya bisa terus berjalan bersama putaran detik yang terus berdetak. Kamu tidak bisa kembali ketika waktu telah bergulir jauh. Begitu pun aku. Aku terpaku bersama waktu. Bersama bayangan. Bersama kenangan.
Ingin aku mengejarmu. Namun kamu sudah terlalu jauh. Sangat jauh. Secepat cahaya pun, aku tak akan pernah bisa lagi menggapaimu. Hingga aku mengelilingi alam semesta pun, tetap tak bisa ku sentuh lembut kulitmu. Aku tetap tidak akan bisa mengubah apa yang sudah diubah waktu.
Angin yang menerpaku halus, membuat rasa dingin hinggap menembus lapisan kain yang menyelimuti tubuhku. Aku masih termenung di bawah langit, memandangi awan yang menggumpal. Terkadang, aku melihat skestsa sliuetmu di sana. Aku gemetar ketika menangkap bayangan itu.
Aku duduki rumput - rumput di bawah kakiku. Aku tatap ruang kosong di sampingku. Aku sentuh rumput - rumput di sana dengan telapak tanganku. Aku merasa ada butiran air yang berkilau karena pantulan cahaya matahari di ujung mataku. Tapi partikel cair itu tak serta merta jatuh halus di pipiku ketika aku merasa, kau ada di sana. Duduk manis di sampingku.
Batas itu ternyata sangat tipis. Lebih tipis dari sehelai rambut dibagi tujuh. Batas antara aku, dan kamu. Antara duniaku, dan duniamu sekarang. Namun, meski setipis itu, aku tetap tidak bisa menatapmu, tidak bisa menyentuhmu. Seandainya kamu tahu, aku sangat ingin memelukmu yang kini tidak memiliki raga untuk kau singgahi.
Merasakanmu, membuat aku tahu. Waktu adalah jarak yang tidak mengenal batas. Seperti aku dan kamu, kini. Waktu telah menelan ragamu menyatu dengan tanah tanpa memberikanku kesempatan untukku berucap.
"Maafkan aku."
Semoga angin mengirimkannya tepat di telingamu. Semoga kali ini, waktu tidak menelannya dan membawanya pergi.
Senyuman ini untuk mu, Hanya Untuk Mu!!!!!!
apa kabarmu hari ini mentari?
sudah berhari-hari, engkau tidak menampakkan senyumanmu
yang tampak hanyalah tangismu, yang sering sekali beberapa hari terakhir ini
ada apa denganmu mentari?
jika senyummu hilang, maka langit pun akan mendung
aku memerlukan senyummu, mentari
sinarmu menandakan engkau sedang tersenyum disana
dan jika engkau saat ini sedang tersenyum di pulau seberang
tolong sampaikan senyumku untuk dia yang ku sayangi
agar dia tahu, aku selalu tersenyum untuknya
Lelahhhh
Aku ingin berada dalam pelukmu tuk sejenak rasakan hangat tubuhmu.
Aku ingin menghirup wangi aroma tubuhmu tuk penuhi setiap rongga dadaku.
Aku ingin sejenak bersandar di dadamu dan merasakan gemuruhnya yang merasukiku.
Aku ingin mengecap tubuhmu yang membuatku candu dengan seluruh panca inderaku.
Rasa itu yang selalu kurindukan bila kau jauh dariku...
Aku ingin menyentuhmu, merasakan kulitmu yang bersentuhan dengan kulitku, merasakan setiap keindahan yang dianugerahkanNya untukmu.
Aku ingin sejenak merasakan kedamaian saat berada dalam pelukmu, melupakan semua hal yang membuatku menggila, dan menumpahkannya dalam rengkuhan kasihmu.
Ya, ijinkan aku tuk sejenak lelap dalam pelukmu dan menyingkirkan semua kegundahanku...
AKU...
Aku di sini...
tetap dengan sendiriku yang sunyi.
Mencoba menerawang jauh, mencari bayangmu yang kurindu.
Entah apa yang kurasa kini, semua tampak senyap...
kurasakan gamang pada tempatku berpijak.
Ku tak sanggup mendekat tapi juga tak ingin beranjak.
Ku tak ingin trus merindu tapi ku juga enggan tuk menghapus bayangmu.
Bagaikan berada di persimpangan jalan dan ku tak tau kemana harus melangkah.
Biarlah waktu yang kan hapuskan semua jejakmu.
Biarlah angin yang kan terbangkan semua bayangmu.
Ku tetap di sini...
tetap dengan sendiriku yang sunyi..
Melupakan Diriku Sendiri?!!!
Kau ingin aku melupakanmu?
Ah…mudah saja aku melupakanmu
Yang aku perlukan hanya melupakan untuk melihat langit
atau laut
Yang aku perlukan hanya melupakan impianku
dan belajar untuk sendiri
Aku tau aku akan melupakanmu
Yang aku perlukan hanya melupakan senyummu
Mata indahmu
Bibir manismu
Aku bisa melakukannya
Yang aku perlukan hanya memejamkan mata
tidak mengingat apapun
tidak mencinta
atau bahkan tidak hidup
Aku akan melupakan betapa berartinya dirimu dalam hidupku
Yang hanya kulakukan adalah…
melupakan diriku sendiri.
Ini Tak Akan Seberapa.
sulit sekali untuk bertemu
sulit sekali menggapainya
susah sekali untuk menunggu
susah sekali untuk meraihnya
apa ini yang ditunjukkan Allah
bahwa dia bukan jodoh ku??
bahwa bukan dia yang Engkau pilihkan untukku??
Ya Allah..
hati ini masih tertaut padanya
hati ini masih ingin bersamanya
mungkin pengorbanan ini belum ada apa-apanya
mungkin apa yang ku lakukan hanya awal dari semuanya
mungkin apa yang ku pikirkan tak seindah kenyataannya
semoga Ya Allah
apa yang akan ku korbankan
bisa membawa kebahagiaan
amiin
sulit sekali menggapainya
susah sekali untuk menunggu
susah sekali untuk meraihnya
apa ini yang ditunjukkan Allah
bahwa dia bukan jodoh ku??
bahwa bukan dia yang Engkau pilihkan untukku??
Ya Allah..
hati ini masih tertaut padanya
hati ini masih ingin bersamanya
mungkin pengorbanan ini belum ada apa-apanya
mungkin apa yang ku lakukan hanya awal dari semuanya
mungkin apa yang ku pikirkan tak seindah kenyataannya
semoga Ya Allah
apa yang akan ku korbankan
bisa membawa kebahagiaan
amiin
Selasa, 26 Maret 2013
Janji setangkai ilalang?
Munajat kita terucap disenja.
Tentang jemari yang bertaut, tentang janji;
yang lirih di ujung bibir hingga nanti.
Hingga ribuan senja datang dan pergi.
Kita menikahi jingga diujung hari, mendaras kata perlahan
“hingga maut memisahkan”
Lalu setangkai ilalang yang bahagia meminta diri,
disuntingnya serupa berlian; bunga rumput berwarna persis seperti langit.
Di jariku dengan khidmat kau lingkarkan.
Setangkai ilalang dan bunga rumput berwarna biru menjadi cincinku.
Dan kerudungku adalah angin-angin yang merapal doa, mengaminkan kita.
Munajat kita terucap di senja.
Tentang jemari yang bertaut, tentang janji;
menjadi ringkih serupa dunia dan senja terakhir kandas oleh nafas yang tak lagi bisa dihela.
01/04/2007
Sepi. Hening. Kosong. Hampa. Sebuah kata yang bersininom sama. Berulang-ulang kali ku hembuskan hanya untuk menggambarkan situasi yang ku rasakan, pada saat ini, di sini. Sama sekali berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Hari itu di sini, ketika bersama mu.
Masih terlihat jelas bayang-bayang mu menari-nari mengitari ruangan ini. Mondar-mandir dengan earphone terpasang di telinga. Kau tak mengiraukan ku yang berteriak marah, menyuruh mu diam dan tutup mulut. Kau bahkan tak menganggap kehadiran ku disitu.
Lalu aku melihat mu duduk manis, tersenyum puas pada sekerat roti mentega dan secangkir susu yang masih mengepulkan asap. Puas, sebab kau telah mengambil sebagian jatah sarapan pagi ku. Membuat ku merengut kesal sepanjang pagi itu.
Lalu ketika itu, kau menarik ku ke dekat jendela hanya untuk memaksa ku menyaksikan semburat mentari yang berwarna tembaga. Persis di samping ku, kau berdiri, tersenyum menawarkan sesuatu yang berbeda dari hari-hari terberat yang telah kita lewati bersama.
Bila aku tak melihat jelas ketulusan di mata itu, barangkali aku tak akan percaya, dan mengucapkan serapah seperti yang biasa kita lakukan. Tapi kali itu, aku malah mengejutkan diri ku sendiri dengan menyambut tawaran mu. Aneh. Sesuatu yang tak biasa terjadi.
Dan saat itu, kau tahu adalah hari terindah sepanjang hidup ku. Hari yang tak akan pernah bisa ku lupakan selamanya.
Lalu...tiba-tiba saja aku melihat mu di situ. Diam. Membeku. Lebih tepatnya terbujur kaku. Kau tak bergerak, bergeming. Bahkan ketika aku mengomel-ngomel pada mu. Tidak seperti biasanya, kau tidak menjawab. Kau tetap bungkam. Bahkan setelah aku menangis, hal terlarang yang selalu kau ingatkan pada ku.
"Jangan menangis" Kau bahkan tak mengucapkan itu dan mengusap lembut butiran yang menetes di pipi ku. Kau menutup mulut mu. Membiarkan ku berteriak sesuka ku. Kau tidak berkata-kata, bahkan untuk menjawab berjuta-juta rasa yang ku kirim kan. Tidak seperti biasa, telepati ku tidak berfungsi.
Kau terdiam selamanya. Meninggalkan ku dengan pertanyaan yang tak terjawab.
Lalu...bertahun-tahun terlewatkan dengan sepi. Merangkak lambat dalam hitungan jari ku. Bayangan itu tidak enyah begitu saja.
Beberapa hari lagi bertepatan dengan hari itu, aku kembali. Duduk sendiri dalam diam. Menggengam secangkir coklat susu yang masih mengepul panas. Di luar sana, gerimis turun dengan perlahan. Aku mendesah pelan. Melirik secangkir coklat yang tak berpenghuni di seberang ku. Aku membiarkan asapnya menari-nari, lalu dingin dan membeku. Tak seorang pun yang kan mengenggam gagangnya.Tidak ada diri mu lagi.
Aku manangis dalam hening yang tercipta. Tahun-tahun telah berlalu. Rambut ku sudah memutih. Kulit ku sudah mengerut. Mata ku sudah tak awas lagi.
Tapi bahkan sedetik pun, bau masa lalu tidak beranjak dari ruangan ini. Di situ ada kau dan aku. Sedang bercengkrama dengan umpatan. Sedang berebut saling mendahului. Sedang menyembunyikan rasa yang tercipta tiba-tiba. Nyaris tidak ada yang berubah. Bahkan dengan perasaan ku.
Tahun-tahun telah berlalu. Musim dan waktu telah berganti. Namun dihati ku, tidak satu musim pun beranjak. Disana hanya ada satu musim, yaitu musim kau dan aku. Musim ketika cinta kita bersemi.
Kau tahu, di sini selalu ada diri mu. Dan hanya diri mu.
It's Always been you...
Yang Utuh Saat Malam
Mengingatmu adalah kesunyian yang utuh...
Pernahkah kalian didekap sunyi abadi dalam peluk berkepanjangan??
terlewat jarak sejauh waktu yang jatuh
melepas sejuta kenangan serapuh gaduh
ranting pun gemertak patah ketika mengingatmu
mengguncang separuh jiwa yang kosong karena ngilu
ketika jejak langkah menyatukan separuh jiwa itu
lalu membumikan yang tak pernah dimengerti bersamamu
“maka perpisahan yang tercampur dalam irama kata-kata
semakin jauh kita lepaskan dari tubuh kesendirian”
dan detik-detik jam mengeluh lelah
setiap berputar melawan arah
melepas penat karena payah
menyatukan jarak yang tak pernah sudah
maka pergilah segala sumpah segala seranah
lihatlah, malam ini angin malas berhembus
udara yang turun begitu dingin menembus rusuk
merasuk lewat sebaris kata yang pernah kita susun bersama
saat malam gelap gulita
(kau dan aku membangun cinta lewat suara maya
dari makna dari gemuruh dalam dada
dan resah setiap senja
yang pernah kita pandang bersama)
di teras belakang kerik jangkrik terdengar sirik
memanggil bintang memanggil rembulan yang terusik
mungkin bisa disatukan dalam sebuah ikatan
tempat berlabuhnya sebatang malam setengah diam
dan berbaris menatap semua kerinduan yang demam
karena dendam paling dalam pada kesunyian
setiap hari, bahkan waktu yang terlewati
kau titipkan sebuah keterpurukan rasa sayang ini
yang pernah memberi warna-warni
pada awan siluet senja dan dawai mimpi
yang tercipta lewat sebatang ingatan sepi
(mungkin hanya cukup sebuah ketaksengajaan,
tapi memang harus diakui
semua yang terjadi hanya mampir
untuk sekedar memberi salam lalu pulang)
Mengingatmu adalah kesunyian yang utuh...
Pernahkah kalian didekap sunyi abadi dalam peluk berkepanjangan??
terlewat jarak sejauh waktu yang jatuh
melepas sejuta kenangan serapuh gaduh
ranting pun gemertak patah ketika mengingatmu
mengguncang separuh jiwa yang kosong karena ngilu
ketika jejak langkah menyatukan separuh jiwa itu
lalu membumikan yang tak pernah dimengerti bersamamu
“maka perpisahan yang tercampur dalam irama kata-kata
semakin jauh kita lepaskan dari tubuh kesendirian”
dan detik-detik jam mengeluh lelah
setiap berputar melawan arah
melepas penat karena payah
menyatukan jarak yang tak pernah sudah
maka pergilah segala sumpah segala seranah
lihatlah, malam ini angin malas berhembus
udara yang turun begitu dingin menembus rusuk
merasuk lewat sebaris kata yang pernah kita susun bersama
saat malam gelap gulita
(kau dan aku membangun cinta lewat suara maya
dari makna dari gemuruh dalam dada
dan resah setiap senja
yang pernah kita pandang bersama)
di teras belakang kerik jangkrik terdengar sirik
memanggil bintang memanggil rembulan yang terusik
mungkin bisa disatukan dalam sebuah ikatan
tempat berlabuhnya sebatang malam setengah diam
dan berbaris menatap semua kerinduan yang demam
karena dendam paling dalam pada kesunyian
setiap hari, bahkan waktu yang terlewati
kau titipkan sebuah keterpurukan rasa sayang ini
yang pernah memberi warna-warni
pada awan siluet senja dan dawai mimpi
yang tercipta lewat sebatang ingatan sepi
(mungkin hanya cukup sebuah ketaksengajaan,
tapi memang harus diakui
semua yang terjadi hanya mampir
untuk sekedar memberi salam lalu pulang)
Yang Utuh
Mengingatmu adalah kesunyian yang utuh...
Pernahkah kalian didekap sunyi abadi dalam peluk berkepanjangan??
terlewat jarak sejauh waktu yang jatuh
melepas sejuta kenangan serapuh gaduh
ranting pun gemertak patah ketika mengingatmu
mengguncang separuh jiwa yang kosong karena ngilu
ketika jejak langkah menyatukan separuh jiwa itu
lalu membumikan yang tak pernah dimengerti bersamamu
“maka perpisahan yang tercampur dalam irama kata-kata
semakin jauh kita lepaskan dari tubuh kesendirian”
dan detik-detik jam mengeluh lelah
setiap berputar melawan arah
melepas penat karena payah
menyatukan jarak yang tak pernah sudah
maka pergilah segala sumpah segala seranah
lihatlah, malam ini angin malas berhembus
udara yang turun begitu dingin menembus rusuk
merasuk lewat sebaris kata yang pernah kita susun bersama
saat malam gelap gulita
(kau dan aku membangun cinta lewat suara maya
dari makna dari gemuruh dalam dada
dan resah setiap senja
yang pernah kita pandang bersama)
di teras belakang kerik jangkrik terdengar sirik
memanggil bintang memanggil rembulan yang terusik
mungkin bisa disatukan dalam sebuah ikatan
tempat berlabuhnya sebatang malam setengah diam
dan berbaris menatap semua kerinduan yang demam
karena dendam paling dalam pada kesunyian
setiap hari, bahkan waktu yang terlewati
kau titipkan sebuah keterpurukan rasa sayang ini
yang pernah memberi warna-warni
pada awan siluet senja dan dawai mimpi
yang tercipta lewat sebatang ingatan sepi
(mungkin hanya cukup sebuah ketaksengajaan,
tapi memang harus diakui
semua yang terjadi hanya mampir
untuk sekedar memberi salam lalu pulang)
Clening Memory
Kemarin seseorang menanyakan tentang kamu denganku. Dan juga seorang yang lain. Mereka menanyakan kabar kamu.
Aku hanya menjawab tidak tahu. Karena aku memang tidak tahu kamu ada dimana sekarang dan bagaimana keadaan kamu.
Aku pikir aku sudah sanggup ketika tahu dan mendengar kabar kamu.
Tapi ternyata mendengar seseorang menyebutkan namamu pun masih sanggup membuat kepingan hati aku berdenyut, merasakan sakitnya sendiri.
Seven months and I still stuck here. I don’t know what happen with me. It’s weird.
Kamu yang menghilang dan tidak pernah menemui aku sejak kali terakhir kita bersama. Kamu yang mendadak berubah sejak malam kamu terakhir memeluk aku.
Kamu yang berhenti berkata denganku sejak terakhir kali kamu membisikkan kangen dan sayang kamu.
Ahh…sudahlah.
Aku pikir aku sudah menerima semuanya, tapi mungkin aku masih membutuhkan waktu yang lebih lama untuk membuat perasaan aku menjadi benar – benar netral ketika mendengar seseorang menyebutkan nama kamu.
Kamu yang menghilang dan tidak pernah menemui aku sejak kali terakhir kita bersama. Kamu yang mendadak berubah sejak malam kamu terakhir memeluk aku.
Kamu yang berhenti berkata denganku sejak terakhir kali kamu membisikkan kangen dan sayang kamu.
Ahh…sudahlah.
Aku pikir aku sudah menerima semuanya, tapi mungkin aku masih membutuhkan waktu yang lebih lama untuk membuat perasaan aku menjadi benar – benar netral ketika mendengar seseorang menyebutkan nama kamu.
Langganan:
Komentar (Atom)