Selasa, 26 Maret 2013
Janji setangkai ilalang?
Munajat kita terucap disenja.
Tentang jemari yang bertaut, tentang janji;
yang lirih di ujung bibir hingga nanti.
Hingga ribuan senja datang dan pergi.
Kita menikahi jingga diujung hari, mendaras kata perlahan
“hingga maut memisahkan”
Lalu setangkai ilalang yang bahagia meminta diri,
disuntingnya serupa berlian; bunga rumput berwarna persis seperti langit.
Di jariku dengan khidmat kau lingkarkan.
Setangkai ilalang dan bunga rumput berwarna biru menjadi cincinku.
Dan kerudungku adalah angin-angin yang merapal doa, mengaminkan kita.
Munajat kita terucap di senja.
Tentang jemari yang bertaut, tentang janji;
menjadi ringkih serupa dunia dan senja terakhir kandas oleh nafas yang tak lagi bisa dihela.
01/04/2007
Sepi. Hening. Kosong. Hampa. Sebuah kata yang bersininom sama. Berulang-ulang kali ku hembuskan hanya untuk menggambarkan situasi yang ku rasakan, pada saat ini, di sini. Sama sekali berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Hari itu di sini, ketika bersama mu.
Masih terlihat jelas bayang-bayang mu menari-nari mengitari ruangan ini. Mondar-mandir dengan earphone terpasang di telinga. Kau tak mengiraukan ku yang berteriak marah, menyuruh mu diam dan tutup mulut. Kau bahkan tak menganggap kehadiran ku disitu.
Lalu aku melihat mu duduk manis, tersenyum puas pada sekerat roti mentega dan secangkir susu yang masih mengepulkan asap. Puas, sebab kau telah mengambil sebagian jatah sarapan pagi ku. Membuat ku merengut kesal sepanjang pagi itu.
Lalu ketika itu, kau menarik ku ke dekat jendela hanya untuk memaksa ku menyaksikan semburat mentari yang berwarna tembaga. Persis di samping ku, kau berdiri, tersenyum menawarkan sesuatu yang berbeda dari hari-hari terberat yang telah kita lewati bersama.
Bila aku tak melihat jelas ketulusan di mata itu, barangkali aku tak akan percaya, dan mengucapkan serapah seperti yang biasa kita lakukan. Tapi kali itu, aku malah mengejutkan diri ku sendiri dengan menyambut tawaran mu. Aneh. Sesuatu yang tak biasa terjadi.
Dan saat itu, kau tahu adalah hari terindah sepanjang hidup ku. Hari yang tak akan pernah bisa ku lupakan selamanya.
Lalu...tiba-tiba saja aku melihat mu di situ. Diam. Membeku. Lebih tepatnya terbujur kaku. Kau tak bergerak, bergeming. Bahkan ketika aku mengomel-ngomel pada mu. Tidak seperti biasanya, kau tidak menjawab. Kau tetap bungkam. Bahkan setelah aku menangis, hal terlarang yang selalu kau ingatkan pada ku.
"Jangan menangis" Kau bahkan tak mengucapkan itu dan mengusap lembut butiran yang menetes di pipi ku. Kau menutup mulut mu. Membiarkan ku berteriak sesuka ku. Kau tidak berkata-kata, bahkan untuk menjawab berjuta-juta rasa yang ku kirim kan. Tidak seperti biasa, telepati ku tidak berfungsi.
Kau terdiam selamanya. Meninggalkan ku dengan pertanyaan yang tak terjawab.
Lalu...bertahun-tahun terlewatkan dengan sepi. Merangkak lambat dalam hitungan jari ku. Bayangan itu tidak enyah begitu saja.
Beberapa hari lagi bertepatan dengan hari itu, aku kembali. Duduk sendiri dalam diam. Menggengam secangkir coklat susu yang masih mengepul panas. Di luar sana, gerimis turun dengan perlahan. Aku mendesah pelan. Melirik secangkir coklat yang tak berpenghuni di seberang ku. Aku membiarkan asapnya menari-nari, lalu dingin dan membeku. Tak seorang pun yang kan mengenggam gagangnya.Tidak ada diri mu lagi.
Aku manangis dalam hening yang tercipta. Tahun-tahun telah berlalu. Rambut ku sudah memutih. Kulit ku sudah mengerut. Mata ku sudah tak awas lagi.
Tapi bahkan sedetik pun, bau masa lalu tidak beranjak dari ruangan ini. Di situ ada kau dan aku. Sedang bercengkrama dengan umpatan. Sedang berebut saling mendahului. Sedang menyembunyikan rasa yang tercipta tiba-tiba. Nyaris tidak ada yang berubah. Bahkan dengan perasaan ku.
Tahun-tahun telah berlalu. Musim dan waktu telah berganti. Namun dihati ku, tidak satu musim pun beranjak. Disana hanya ada satu musim, yaitu musim kau dan aku. Musim ketika cinta kita bersemi.
Kau tahu, di sini selalu ada diri mu. Dan hanya diri mu.
It's Always been you...
Yang Utuh Saat Malam
Mengingatmu adalah kesunyian yang utuh...
Pernahkah kalian didekap sunyi abadi dalam peluk berkepanjangan??
terlewat jarak sejauh waktu yang jatuh
melepas sejuta kenangan serapuh gaduh
ranting pun gemertak patah ketika mengingatmu
mengguncang separuh jiwa yang kosong karena ngilu
ketika jejak langkah menyatukan separuh jiwa itu
lalu membumikan yang tak pernah dimengerti bersamamu
“maka perpisahan yang tercampur dalam irama kata-kata
semakin jauh kita lepaskan dari tubuh kesendirian”
dan detik-detik jam mengeluh lelah
setiap berputar melawan arah
melepas penat karena payah
menyatukan jarak yang tak pernah sudah
maka pergilah segala sumpah segala seranah
lihatlah, malam ini angin malas berhembus
udara yang turun begitu dingin menembus rusuk
merasuk lewat sebaris kata yang pernah kita susun bersama
saat malam gelap gulita
(kau dan aku membangun cinta lewat suara maya
dari makna dari gemuruh dalam dada
dan resah setiap senja
yang pernah kita pandang bersama)
di teras belakang kerik jangkrik terdengar sirik
memanggil bintang memanggil rembulan yang terusik
mungkin bisa disatukan dalam sebuah ikatan
tempat berlabuhnya sebatang malam setengah diam
dan berbaris menatap semua kerinduan yang demam
karena dendam paling dalam pada kesunyian
setiap hari, bahkan waktu yang terlewati
kau titipkan sebuah keterpurukan rasa sayang ini
yang pernah memberi warna-warni
pada awan siluet senja dan dawai mimpi
yang tercipta lewat sebatang ingatan sepi
(mungkin hanya cukup sebuah ketaksengajaan,
tapi memang harus diakui
semua yang terjadi hanya mampir
untuk sekedar memberi salam lalu pulang)
Mengingatmu adalah kesunyian yang utuh...
Pernahkah kalian didekap sunyi abadi dalam peluk berkepanjangan??
terlewat jarak sejauh waktu yang jatuh
melepas sejuta kenangan serapuh gaduh
ranting pun gemertak patah ketika mengingatmu
mengguncang separuh jiwa yang kosong karena ngilu
ketika jejak langkah menyatukan separuh jiwa itu
lalu membumikan yang tak pernah dimengerti bersamamu
“maka perpisahan yang tercampur dalam irama kata-kata
semakin jauh kita lepaskan dari tubuh kesendirian”
dan detik-detik jam mengeluh lelah
setiap berputar melawan arah
melepas penat karena payah
menyatukan jarak yang tak pernah sudah
maka pergilah segala sumpah segala seranah
lihatlah, malam ini angin malas berhembus
udara yang turun begitu dingin menembus rusuk
merasuk lewat sebaris kata yang pernah kita susun bersama
saat malam gelap gulita
(kau dan aku membangun cinta lewat suara maya
dari makna dari gemuruh dalam dada
dan resah setiap senja
yang pernah kita pandang bersama)
di teras belakang kerik jangkrik terdengar sirik
memanggil bintang memanggil rembulan yang terusik
mungkin bisa disatukan dalam sebuah ikatan
tempat berlabuhnya sebatang malam setengah diam
dan berbaris menatap semua kerinduan yang demam
karena dendam paling dalam pada kesunyian
setiap hari, bahkan waktu yang terlewati
kau titipkan sebuah keterpurukan rasa sayang ini
yang pernah memberi warna-warni
pada awan siluet senja dan dawai mimpi
yang tercipta lewat sebatang ingatan sepi
(mungkin hanya cukup sebuah ketaksengajaan,
tapi memang harus diakui
semua yang terjadi hanya mampir
untuk sekedar memberi salam lalu pulang)
Yang Utuh
Mengingatmu adalah kesunyian yang utuh...
Pernahkah kalian didekap sunyi abadi dalam peluk berkepanjangan??
terlewat jarak sejauh waktu yang jatuh
melepas sejuta kenangan serapuh gaduh
ranting pun gemertak patah ketika mengingatmu
mengguncang separuh jiwa yang kosong karena ngilu
ketika jejak langkah menyatukan separuh jiwa itu
lalu membumikan yang tak pernah dimengerti bersamamu
“maka perpisahan yang tercampur dalam irama kata-kata
semakin jauh kita lepaskan dari tubuh kesendirian”
dan detik-detik jam mengeluh lelah
setiap berputar melawan arah
melepas penat karena payah
menyatukan jarak yang tak pernah sudah
maka pergilah segala sumpah segala seranah
lihatlah, malam ini angin malas berhembus
udara yang turun begitu dingin menembus rusuk
merasuk lewat sebaris kata yang pernah kita susun bersama
saat malam gelap gulita
(kau dan aku membangun cinta lewat suara maya
dari makna dari gemuruh dalam dada
dan resah setiap senja
yang pernah kita pandang bersama)
di teras belakang kerik jangkrik terdengar sirik
memanggil bintang memanggil rembulan yang terusik
mungkin bisa disatukan dalam sebuah ikatan
tempat berlabuhnya sebatang malam setengah diam
dan berbaris menatap semua kerinduan yang demam
karena dendam paling dalam pada kesunyian
setiap hari, bahkan waktu yang terlewati
kau titipkan sebuah keterpurukan rasa sayang ini
yang pernah memberi warna-warni
pada awan siluet senja dan dawai mimpi
yang tercipta lewat sebatang ingatan sepi
(mungkin hanya cukup sebuah ketaksengajaan,
tapi memang harus diakui
semua yang terjadi hanya mampir
untuk sekedar memberi salam lalu pulang)
Clening Memory
Kemarin seseorang menanyakan tentang kamu denganku. Dan juga seorang yang lain. Mereka menanyakan kabar kamu.
Aku hanya menjawab tidak tahu. Karena aku memang tidak tahu kamu ada dimana sekarang dan bagaimana keadaan kamu.
Aku pikir aku sudah sanggup ketika tahu dan mendengar kabar kamu.
Tapi ternyata mendengar seseorang menyebutkan namamu pun masih sanggup membuat kepingan hati aku berdenyut, merasakan sakitnya sendiri.
Seven months and I still stuck here. I don’t know what happen with me. It’s weird.
Kamu yang menghilang dan tidak pernah menemui aku sejak kali terakhir kita bersama. Kamu yang mendadak berubah sejak malam kamu terakhir memeluk aku.
Kamu yang berhenti berkata denganku sejak terakhir kali kamu membisikkan kangen dan sayang kamu.
Ahh…sudahlah.
Aku pikir aku sudah menerima semuanya, tapi mungkin aku masih membutuhkan waktu yang lebih lama untuk membuat perasaan aku menjadi benar – benar netral ketika mendengar seseorang menyebutkan nama kamu.
Kamu yang menghilang dan tidak pernah menemui aku sejak kali terakhir kita bersama. Kamu yang mendadak berubah sejak malam kamu terakhir memeluk aku.
Kamu yang berhenti berkata denganku sejak terakhir kali kamu membisikkan kangen dan sayang kamu.
Ahh…sudahlah.
Aku pikir aku sudah menerima semuanya, tapi mungkin aku masih membutuhkan waktu yang lebih lama untuk membuat perasaan aku menjadi benar – benar netral ketika mendengar seseorang menyebutkan nama kamu.
Langganan:
Komentar (Atom)