Selasa, 27 November 2012
Yang Utuh Saat Malam " 27 Nopember 2012
Mengingatmu adalah kesunyian yang utuh...
Pernahkah kalian didekap sunyi abadi dalam peluk berkepanjangan??
terlewat jarak sejauh waktu yang jatuh
melepas sejuta kenangan serapuh gaduh
ranting pun gemertak patah ketika mengingatmu
mengguncang separuh jiwa yang kosong karena ngilu
ketika jejak langkah menyatukan separuh jiwa itu
lalu membumikan yang tak pernah dimengerti bersamamu
“maka perpisahan yang tercampur dalam irama kata-kata
semakin jauh kita lepaskan dari tubuh kesendirian”
dan detik-detik jam mengeluh lelah
setiap berputar melawan arah
melepas penat karena payah
menyatukan jarak yang tak pernah sudah
maka pergilah segala sumpah segala seranah
lihatlah, malam ini angin malas berhembus
udara yang turun begitu dingin menembus rusuk
merasuk lewat sebaris kata yang pernah kita susun bersama
saat malam gelap gulita
(kau dan aku membangun cinta lewat suara maya
dari makna dari gemuruh dalam dada
dan resah setiap senja
yang pernah kita pandang bersama)
di teras belakang kerik jangkrik terdengar sirik
memanggil bintang memanggil rembulan yang terusik
mungkin bisa disatukan dalam sebuah ikatan
tempat berlabuhnya sebatang malam setengah diam
dan berbaris menatap semua kerinduan yang demam
karena dendam paling dalam pada kesunyian
setiap hari, bahkan waktu yang terlewati
kau titipkan sebuah keterpurukan rasa sayang ini
yang pernah memberi warna-warni
pada awan siluet senja dan dawai mimpi
yang tercipta lewat sebatang ingatan sepi
(mungkin hanya cukup sebuah ketaksengajaan,
tapi memang harus diakui
semua yang terjadi hanya mampir
untuk sekedar memberi salam lalu pulang)
Jumat, 23 November 2012
Kabar Mu???
Lama tidak dengar kabarmu, bagaimanakah kamu sekarang? Semoga kamu dijaganya baik, jangan sampai percuma melepas aku. Jauh dariku bukan berarti tanpa tertawa. Meski ia tidak selucu aku, janganlah jatuh air matamu. Meninggalkan aku sendiri di sini kan seharusnya bukan pilihan untuk bersedih sepanjang hidup. Semangatlah untuk membuat dirimu mencintainya!
Memang sesekali aku coba mencinta dengan mencium, mendobrak pintu hatiku dengan kecupan. Namun apa mau dikata, malah luka perasaan orang. Apa cinta yang meledak-ledak menghancurkan hati sendiri? Sebab setiap bunyi hantaman keras, kudengarnya bagai namamu.
Beberapa menyukaiku dengan lembutnya, hanya tak sedalam kamu mengenal aku. Kamu lebih dari masa lalu, seperti pahlawan yang tidak mungkin hanya karena ada luka kecil, dapat terlupakan perjuangannya. Jika ada sejuta mulut yang menyoraki aku berengsek, aku percaya kamu tetap memiliki suara sendiri. Itulah! Sesekali memang aku suka berkata bodoh, membencimu karena jauh. Sebab menyakitkan, kamu hadir untuk kuingat, seperti datang untuk berpamit. Terkadang ini yang membuatku berharap cemas, di mana kiranya keseluruhanku dapat rubuh, sehingga dari atas panggung aku terjatuh, kemudian mendarat di pangkuanmu. Sekarang setelah semuanya ingin kumulai sendiri, tiap kepingku telah menjelma menjadi nyawa dan memberi hidup bagi tiap kata yang melengkapkan sepi setiap orang.
Melangkah...
Pagi ini ku merasakan sesuatu dari dalam lubuk hati ini yang kan selalu memikirkanmu
Rasa indah ini yang ku dapat di kala ku tuliskan lirik untukmu kekasihku ada di sana jauh dari
Wahai angin tolonglah diriku tuk sampaikan bait-bait puisi rindu dalam kesejukan hadirnya kekasih hati pujaanku
Diriku dengan hati ini hanya terdiam terpaku terpana olehmu
Kehadiranmu yang selalu kunanti bisa bercanda tertawa berbagi cerita
tentang hidup yang selalu melangkah ke depan dan tak akan pernah mundur
Harapanku untukmu
Kekasihku, apa kau tahu, bila aku merindukanmu
Kekasihku, apa kau tahu, bila aku merindukan kamu
2007
Jangan menangis kekasihku
Hatiku gundah karena air matamu
Tak sampai hati melihatmu
Mengucurkan kesedihanmu
Jangan sembunyi kekasihku
Hatiku resah karena rahasiamu
Bicara kepadaku seorang
Tuangkan Kepadaku
Semua keluh kesah kau rasa
Semua pilu dan gundah yang kau dapat
Curahkan semua padaku
Dan jangan menangis, tolonglah
Aku tak tahan,
Aku tak mau,
Melihatmu seperti ini.
Tak Ada
Tak ada yang mencintaiku
Tak ada yang menginginkanku
Tak ada yang suka padaku
Tolong beri tahu padaku kenapa?
Aku merasakan hidup ini seperti sesuatu yang tak lengkap.
Mengitari diriku, menjauhiku, dan mendesakku.
Mengiringi lagu kematian diantara ribuan dosa-dosa para penyair.
Hilangkanlah semua itu dariku
Apa kau pernah seperti ini?
Hidup di antara ketidak jelasan.
Antara cahaya yang gelap dan bayangan yang terang,
mengikutimu.
Aku menangis disini
Menangis dengan darahku
Aku sendiri disini
Selalu sendiri kudisini
Aku tersiksa disini
Tercabik gonggongan dalam jiwaku
Selamatkan aku!
Aku tak tahan lagi akan siksa ini
Aku tak mau lagi korbankan darahku
Aku berharap pergi dari hidup ini
Selamatkan aku!
Senja kelabu
Gerimis membuat senja tak mewarna jingga, dan senja kali ini adalah senja yang ke-730 semenjak jemarinya tak lagi menggamit erat jemariku. Sudah dua tahun ia pergi tanpa kabar, membawa sekeping hati yang kupinjamkan. Dan betapa bodohnya aku yang masih saja setia menunggunya di ujung jalan, tempat di mana ia janjikan pertemuan manis. Janji yang terucap di sebuah stasiun kereta tua. Kini janji itu sudah sama halnya dengan rel-rel renta yang berkarat, menunggu dilewati gerbong-gerbong pembawa berita bahagia.
“Aku pergi untuk impian kita. Rawat rindumu baik-baik, aku tak lama, hanya beberapa purnama terlewati tanpa bersama. Aku pasti kembali.”
Ucapnya dulu dan kini kalimat itu seperti menjelma jadi peluru yang kerap dilesatkan waktu ke kepalaku. Berkali-kali, namun tak mati. Justru membangkitkan rindu yang begitu nyeri.
Sudah dua tahun, aku masih saja berdiri di sini, di tempat pertemuan manis yang ia janjikan, tiap senja. Dengan memasang wajah harap, dan setumpuk asa di dada yang perlahan-lahan mulai lesap ke udara, melindap bersama rebahnya matahari di ufuk cakrawala. Lalu pagi datang, meruah kembali segenap asa yang pergi kemarin senja. Berulang dan terus berulang, sampai saat ini, senja ke-730.
Angin memasaikan rambutku, butir-butir gerimis memelukku, namun mereka tak mampu menggigilkan aku yang terbiasa digigilkan rindu. Satu per satu air mata meluruh, berjatuhan, dan pecah di atas aspal legam yang mulai terkelupas lapisannya, mengingat tentangnya dan semua hal-hal indah yang sering ia gumamkan di telingaku adalah alasan mengapa aku masih ingin menunggunya. Juga karena aku masih mempercayai bahwa takdir ditulis dengan menggunakan pensil, dan aku masih memiliki doa sebagai penghapusnya kalaupun nanti ia lupa pada janjinya. Aku tahu betapa bodohnya aku, tetapi ini cinta, ini cinta, ini cinta!
Esok, senja ke-731. Semoga saja aku masih punya alasan untuk menunggunya atau alasan untuk meninggalkan janji-janji manisnya, melanjutkan hidup yang baru. Karena setahuku, tak ada yang benar-benar pergi, sebab kenangan adalah rumah yang tak pernah menutup pintu – tempat segalanya ingin kembali pulang.
Bila rindu ini masih milikmu
kuhadirkan sebuah tanya untukmu
harus berapa lama aku menunggumu
aku menunggumu…
(Menunggumu – Chrisye ft Peterpan)
20 Oktober 2006
Terdengar rintikan, jatuhnya hujan di malam hari
Kuberharap bisa melihat pelangi
tapi itu hanyalah mimpi
Mengalun dan mengalir, dunia menertawakanku
Kuberjalan di jalan setapak
Menyusuri apa yang kutinggalkan
Kuingat saat pertama kali kumelewati jalan ini
Indah rasanya, tanpa pikiran pun ku bahagia
Walau hujan, kupercaya pelangi kan datang
Tapi pelangi takkan datang di malam hari
takkan pernah, sama seperti dirimu
Menunggu salju di sebuah gurun
Kumembunuh diriku secara perlahan
Di malam hari ku menerawang langit
Jika awan enggan datang padaku
Ku akan menatap bulan dan bintang
Jika siang memberiku lautan
Kutakut lautan itu kan menimpaku
Saat langit merajut awan, ku kan menunggu hujan
Dari matahari pun ku kan mencair dalam tetesnya
Kuharap kilau yang terpancar kan timbulkan putih
Suatu putih yang terbagi dan menyebar
Darinya kan di dapatkan pelangi
Jika hujan telah hadirkan pelangi
Ku kan pergi dan menunggumu di ujung sana
Tapi ku takkan pernah sampai
kau pun takkan pernah datang
tapi aku akan tetap menunggumu
karena aku sangat membutuhkanmu
Aku tertelan waktu dalam hening yang sunyi....
sunyi yang mengekat.. rongga nafasku...
Sejenak aku termangu dalam ragu....
Haruskah... kuhentikan detik sang waktu..
detik demi detik yang terangkai demi cintaku padamu..
Kucoba bertahan dalam belenggu hening yang kian sunyi...
belenggu yang membuat tiap kata hilang dari syairku..
Belenggu yang merampas tiap puisiku...
Kucoba bertahan.. tanpa kata... tanpa rima dalam tiap suara hatiku
kucoba bertahan meski kematian kian erat mendekapku...
Kucoba bertahan meski nafas kian menjauh dariku...
Kucoba bertahan dipersimpangan...
Hingga harus kuakhiri cerita cinta ini...
Cerita cinta... yang selama ini membuat jantungku berdetakk...
Cerita cinta yang membuat rongga nafasku dipenuhi udara...
Cerita Cinta yang membuatku bertahan untuk hidup...
Ku akhiri semua....
Bukan demi diriku.....
Bukan demi Hidupku....
Apalagi demi harapanku....
Ku akhiri semua.......
Demi cintaku.....
Aku tak ingin.... langkahmu tersandung
atau bahkan engkau terjerebab... karena aku...
Ku akhiri semua.....
meski hangat menjauh dari tubuhku...
Bahkan darah berhenti mengalir di ragaku....
Tapi aku harus bertahan....
Meski sunyi akan menjadi nyanyian di tiap detikku..
Meski hampa menjadi hari-hariku...
Ku akhiri Cinta ini.......
Hanya karena aku yang teramat mencintaimu...
Ku akhiri cinta ini.....
Hingga Engkau akan selalu hidup.. meski kematian menjemputku...
Asaaa Ku..
Asaku nyalang dalam tambatan penyuaraannya,
Berlomba dalam nyata yang diam, tanpa bertemankan sepatah kata
Tegas kunyatakan patri dalam dada dan kubiarkan membara
Segala yang menjadikan semangat dan tekad itu baik
Pada pemahaman sempitku akan apa itu hidup,
sabar, dan ikhlas
Manakala mata tak mampu tangkap arti, dan umumnya dilisankan
Walau dalam rasa tak mampu kujabarkan dengan logis
Tetapi biarlah, menyertai luka hambat pada juangku
Menyisakan ceritera pada masa akan datang
untuk jadikan pelajaran
Asaku tak boleh mati, untuk menjaga diriku tetap hidup
dengan sebenar-benar hidup, bukan hanya hiasan pemanis mata
yang begitu menipu dengan indahnya
Medan juangku tak hanya di sini
Keyakinanku bahwa perjalanan masih panjang, hanya untuk sebuah asa dan juang
Menyerahlah kepada Dia yang Maha, bukan pada hambatan
yang seringkali membutakan mata hati
Langganan:
Komentar (Atom)