Selasa, 26 Maret 2013
Janji setangkai ilalang?
Munajat kita terucap disenja.
Tentang jemari yang bertaut, tentang janji;
yang lirih di ujung bibir hingga nanti.
Hingga ribuan senja datang dan pergi.
Kita menikahi jingga diujung hari, mendaras kata perlahan
“hingga maut memisahkan”
Lalu setangkai ilalang yang bahagia meminta diri,
disuntingnya serupa berlian; bunga rumput berwarna persis seperti langit.
Di jariku dengan khidmat kau lingkarkan.
Setangkai ilalang dan bunga rumput berwarna biru menjadi cincinku.
Dan kerudungku adalah angin-angin yang merapal doa, mengaminkan kita.
Munajat kita terucap di senja.
Tentang jemari yang bertaut, tentang janji;
menjadi ringkih serupa dunia dan senja terakhir kandas oleh nafas yang tak lagi bisa dihela.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar