Jumat, 14 Juni 2013

Sore menjadi gelap

Apa yang lebih indah daripada sore hari, dengan sebuah inspirasi yang terselip ketika senja bersolek dibalik horison, sambil menulis sebuah cerita dan ditemani kentalnya secangkir kopi hitam yang pekat? Saat itu langit terlanjur gelap untuk kemudian bisa dipahami sebagai atap bumi. Mendung yang berarak, sore itu, membuat suasana senja yang beraroma kemuning tiba-tiba luluh dalam satu warna, abu-abu. Semua hiruk pikuk dan denting keramaian yang sebelumnya masih ada sekejap berhenti begitu saja. Seperti seseorang dikejauhan menekan tombol stop dalam remot Mahakuasa. Mendung memang selalu membuat kesal siapapun yang sedang bersenang-senang di luar ruangan. Sementara keramaian berangsur-angsur hilang, hujan pun seketika datang. Ditemani dengan gemuruh petir menyambar, riuh angin dan lampu-lampu yang mulai menyala. Namun sisanya masih sunyi. Hawa pun semakin dingin dan gelap pelan-pelan menyergap. Awalnya saya hanya sedang ingin menghabiskan waktu senggang akibat hujan deras, yang bulir-bulirnya riuh berjatuhan di halaman rumah, yang wanginya mengirimkan sepasukan aroma tanah basah. Dan saya pun terdiam dengan jari jemari terus menulis dan menulis dan menulis. Saya kira menulis itu soal menuangkan apa yang ada dalam pikiran dan membiarkanya melantur seperti anak-anak yang bermain perang. Lalu merapikannya pelan-pelan dan memberikan sebuah batasan yang jelas perihal apa saja yang hendak disampaikan dan apa yang tidak. Tapi rupanya menulis itu semacam membuka keran air dengan tangki sebesar lautan. Seperti banjir air bah yang kemudian menghanyutkan hal-hal remeh yang terlalu susah untuk ingat. Lalu saya pun menatap senja yang telah pudar itu benar-benar menjadi gelap yang terlalu pekat. Dan ketika sedang asik menulis pada bagian klimaks catatan yang semula kecil perlahan jadi panjang, sebuah riuh bebunyian terdengar. Tapi saya terlalu acuh untuk kemudian berhenti dan peduli. Malam akhirnya benar-benar tiba dan serangkaian cahaya serupa barisan kunang-kunang mulai bermunculan. Menciptakan bias warna merah, biru, kuning, hijau, dan putih polos. Tembok tembok yang kemudian temaram menjadi angkuh dengan lunturan warna. Saya pun masih tak peduli dan terus menulis catatan kecil yang menjadi panjang. Seperti sebuah janji tak akan ada istirahat sebelum usai penaklukan. “Kriiuiuiuiuiuiuiuik” dan bunyi itu benar-benar memecah konsentrasi yang sedari pagi bangun dengan motivasi keangkuhan. Saya terpaksa harus tunduk kali ini. Dengan malas saya berdiri berjenjang dan mulai menenggak air tawar. Seperti penawar dari semua racun yang menemani habis seharian. Sedikit lagi selesai. Begitu saja dalam pikiran saya terus menerus berulang-ulang dan terus menerus. Menyelesaikan catatan kecil yang terlanjur panjang. Saya pun membacanya pelan-pelan. Dengan kerendahan hati seorang pendosa. Di tengah keheningan malam yang bahkan tak satupun setan yang sudi gentayangan. Lantas saya berkata lirih “Meh kok jadinya puisi galau?” “Ctrl Alt Del.”

Terseduh

Kurangkai kata- kata agar terbaca dengan jelas dan fasih untuk menulis. aku mendengarkan jeritan mu ini dengan jeli teman, tak sepatah kata pun aku berbicara. dengan linangan air mata mu hati ku terasa terseduh seperti teh di pagi hari. baik,dengan tulisan kecil ini mulai melukis mu dgn cerita. :)
Aku sedang tak ingin tertawa. Tak ingin tersenyum. Dan Tak ingin juga marah. Untukmu aku hadir, sebagai pelengkap taman walau terabaikan, semak belukar selalu tegar, menjaga bunga dari luka* Satu tarikan napas panjang tak pernah dapat selesaikan rindu. Aku gila. Gila karena merindumu. Akal sehat terbawa menuju udara yang serpihkan asa. Tolonglah, aku bisa mati dengan rindu ini, Tuan. Izinkan semesta hadirkan matamu yang unggun di selasar cintaku, dua detik saja. Kemudian akan kupatahkan detik yang berdetak tak tahu diri. Kemudian aku akan berdiang pada wujudmu, berlindung dari gigil rindu yang jatuhkan gerimis di hati Ingin kukangkangi sepi, langkahi waktu dan terbang menuju bahumu. Izinkan aku bersandar di sana, sebentar saja. Sedetik. Janjiku, sedetik. Sebab terlalu lama akan membuat kepalaku terbakar. Aku takut. Ingatan tentangmu akan berderak-derak dimakan api kemudian mengabu setelahnya. Dengan apa kubahasakan lagi o, Tuan. Sedang kuiris nadiku sendiri tentang rasa yang inginkan temu ini. Rinduku sudah kegendutan! Cukuplah kiranya senja menjadi penerang waktu kita bercinta nanti. Dalam senyap menuju malam yang berbunyi riang. Apakah rinduku rumit? Serumit bayang senja tenggelam di garis barat begitu? Ah, tanyaku tak pernah kau jawab. Bahkan dengan satu tarikan alis pun kau enggan. Rinduku kehilangan teman. Sangkaanku. Kudekap kau dalam ketiadaan, membawamu pulang ke tempat tak bernama namun terasa ada* Kemana kini harus kuadukan perihal rasa tak berkesudahan? Tanyaku pada langit, kini. Ia mengedip sekali. Kemudian diam. Dan kepalaku mulai sakit, dipenuhi banyak kupu-kupu merah. Kemudian kubayangkan diriku menjadi ia, terbang sambil bernyanyi. Sembunyi di balik rimbun pohon silver dust kala hujan. Salah hinggap, kebasahan dan sayap merahnya kian cantik. Aku tak hendak alpa dengan janji yang pernah kutorehkan pada lazuardi biru, pun ketika badai rasa tak sengaja menghapus hadirnya Hendak kulukis engkau dalam langit ingatan saja. Kemudian kupindahkan ke hati. Sampai seumur jantungku berdenyut. Tak akan hilang hanya karena kepalaku terbentur. Tak hendak kuminta persetujuanmu, Tuan. Aku memang mencurinya. Hukumlah, jika kau bersedia. Penjarakan aku dalam sekat hatimu. Kemudian lamat-lamat kudengar sebuah sajak bernyanyi di kepalaku. Mengejek waktu yang mulai kukalahkan sambil kuseka air yang menggenang di ujung pelupuk.
Bila badai menghampiri, kurangkai janjimu serupa pelangi melengkapi cakrawala aksaraku*