Selasa, 07 Agustus 2012

Pada Saat Hujan (0_0)

dari semenjak lepas ba’da magrib hingga pagi dini ini bulir-bulir air itu masih menetes dari langit satu persatu, acak tak berurutan tergantung siapa yang ingin jatuh bebas terlebih dahulu mencium tanah dipersilakan secara sukarela menjatuhkan dirinya ke bumi bulir-bulir air itu serupa yang menetes dari langit mataku, satu-persatu, acak tak berurutan kucoba tahan sekuatnya, tetapi terlalu berat untuk tertampung di pelupuk mata perlahan tapi konstan berjatuhan menawan aku yang sekeras batu, ternyata rapuh ketika bersinggungan dengan cinta aku yang sekuat kartini, harus menunduk kalah pada sepi maaf, aku disini tak sedang ingin mengiba lara tapi perih ini benar sungguh tak tertahankan, luka yang tercipta sudah menganga terlalu lebar dan hanya keajaiban tanganmulah yang mampu pulihkan pilunya sayang kau tak tanggap, tangan hangat itu terus kau sembunyikan dalam-dalam di saku celanamu tak terlihatkah olehmu luka ini begitu nyata? harus berapa lama aku menunggu hingga menjadi sekarat lalu mati? atau haruskah kutarik perlahan tanganmu itu dari saku celana, kemudian menaruhnya tepat di atas luka agar kau dapat sedikit merasakan betapa dahsyat sakitnya? sebenarnya, pedulikah kau dengan lukaku ini…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar