Selasa, 07 Agustus 2012

Malam...

malam ini kelabu angin berhembus dingin menggigit tubuhku yang terbungkus jaket tebal bintang sama sekali tak terlihat di atap selimut langit hitam hanya kedip lampu belakang pesawat yang berpenjar lemah di ketinggian sejauh yang dapat terjangkau oleh sapuan mata beberapa hari ini kotaku menggumpalkan kabut karena matahari enggan menyapa dengan sinar hangatnya seolah ia sedang asyik bersembunyi di balik hangatnya awan meminta sedikit perlindungan kembali kukencangkan resleting depan jaketku kututup erat-erat, tak kuijinkan angin menyeruak menyentuhku perlahan kusandarkan kepala pada kaca mobil mencoba menikmati perjalanan pulang malam ini yang terbungkus dinginnya kelam kubunuh perlahan pesimisme yang berlomba bermunculan kuyakinkan bahwa semua kan baik-baik saja seperti yang sudah tertahtakan melalui sabdaNya aku mampu, aku kuat, aku bisa perkataan yang terus menerus berulang menjadi gema, menggaung dalam rongga kepala aku sibuk berdebat dengan dingin, dengan angin, dengan malam yang mencoba menelikungku dari belakang dan waktu pun kembali tertatih berjalan deru mobil yang meluncur terjam menggoncang tubuhku perlahan menguarkan wangi tubuh berbalur aroma pantai tadi siang aku hanya bisa termangu, berharap dalam diam bisa sedikit kutemukan jawaban atas pertanyaan yang selalu deras mendera pikiran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar