Malam yang aku sisihkan untuk menulis, beberapa hari ini menjadi malam yang membuatku tidak mudah untuk menulis. Selalu saja ada pekerjaan yang merenggutnya, selalu saja ada yang salah dengan pekerjaanku, selalu ada yang tertukar, selalu ada yang harus aku lengkapi.
Malam.
Sore tadi hujan, sebelum belok gang menuju kosan aku lihat bulan muncul separuh diawan gelap. Aku menaiki anak tangga dengan langkah yang tidak tergesa-gesa, langkahku menjadi langkah yang penuh dengan ketegangan dan pikiran yang loncat-loncat. Antara pekerjaanku dan tulisanku, aku memang bukan penulis hanya saja sedang membiasakan diri menulis. Entah karena apa dan untuk siapa, aku hanya menulis itu saja.
Dan malam ini, harus tetap menulis. Meski kantuk dan lelah hinggap, aku harus akan menulis begitulah aku dan beberapa temanku berlomba-lomba untuk menulis, biasa saja memang sangat biasa toh hanya menulis hal yang ingin kita tulis. Seperti minggu ini aku harus akan menulis tentang sepi, entah sepi seperti macam apa dan karena apa? Yang pasti sepi bukan sapi, begitu kata temanku.
Aku atau. Sepi...
Tapi, apakah sepi itu berarti kita sendiri?
Jika begitu aku memang sendiri, tapi apakah aku merasa sepi?
Mengalami sepi?
Apakah aku mengenal sepi? Sepi...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar