Rabu, 08 Agustus 2012

08/08/12

Bagaimana aku memulai, mendung menutupi pandangan akan pancaran diri Siangku rasa gelap gulita, pancaran diri hanya kerdip lilin yang menunggu semilir angin menerpa kemudian padam dan aku menyampaikan keinginan hati, walau tinggal menunggu waktu, harus aku sampaikan. “Sesekali ingin menyibak kelukaan yang telah lama mendera diri. Sesekali ingin mengundang kebenaran akan diri untuk berbicara dan berdialog, sekarang. Aku berhasrat belajar mengerti, memahami dan menyenangi diri. Berbahagia rasa jauh dariku, rasa aku berlari menjauh dariku sebenar. Dan aku kadang bimbang gelisah, sedu sedan, menangis kenangkan diri. Dicela alam sekitar, diketawakan deretan pohon-pohon sekitar. Dilecehkan waktu. Angin menemparku dan menyadarkan aku tentang kehidupan, tapi itu hanya sesaat lalu aku kembali lagi. Kemanakah energy besar ini akan membawaku, membimbingku ataukah menjerumuskan aku Itulah senantiasa pertanyaanku. Dimanakah energi ini tersimpan dan memberi kekuatan padaku untuk memadamkan aku, hidup dalam kematian diri Aku berdiri padahal masih dalam mimpi. ‘Pertanyaan apa lagi yang harus aku ungkap ?’ ‘ sebenar banyak, tapi sekali lagi selalu tertutupi’ Masih bias diri ini untuk lagi mengerti diri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar